Abaikan Peringatan Pakar Medis, Bangladesh Cabut 'Lockdown' untuk Rayakan Idul Adha

Agregasi VOA, · Selasa 20 Juli 2021 10:17 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 20 18 2443254 bangladesh-cabut-lockdown-untuk-rayakan-idul-adha-0TrCI8xzC2.jpg Warga memenuhi pasar menjelang Hari Raya Idul Adha di Bangladesh (Foto: AP via VOA)

Di antara kerumunan besar orang yang berbelanja di Pasar Baru Dhaka adalah Shah Alam, seorang teknisi gigi.

"Karena pemerintah telah melonggarkan situasi selama beberapa hari, kami datang ke pasar untuk membeli barang-barang yang diperlukan. Kami mencoba mematuhi pedoman keselamatan kesehatan,” terangnya.

Penangguhan lockdown tersebut mendapat kecaman para pakar kesehatan. Mereka memperingatkan bahwa kebijakan itu dapat memperburuk lonjakan berkelanjutan yang dipicu oleh varian Delta yang sangat menular, yang pertama kali terdeteksi di negara tetangga, India.

“Banyak orang, mungkin jutaan, sudah mudik ke desa mereka untuk merayakan Idul Adha. Jadi, banyak dari mereka yang sebenarnya membawa virus ini dari satu bagian negara ke bagian lain, atau ke daerah mana yang mungkin tidak terpengaruh sebelumnya. Melalui mereka, daerah-daerah itu akan terpengaruh sekarang. Jadi, ini satu. Kedua, karena pembukaan pasar, banyak orang keluar dari rumah. Jadi, apa yang akan terjadi adalah penyebaran akan semakin meluas,” ungkap Be-Nazir Ahmed, seorang pakar kesehatan masyarakat.

Ahmed juga mengkhawatirkan, kegiatan kurban juga akan menjadi pemicu lonjakan kasus. "Mungkin ratusan ribu ternak akan diperdagangkan untuk kegiatan kurban, mulai dari desa yang sangat terpencil hingga kota. Dan, Anda tahu, kebanyakan penjual ternak, atau lainnya yang terlibat, berasal dari daerah pedesaan. Dan mungkin, mereka akan pulang membawa virus,” paparnya.

Menurut perkiraan Ahmed, 30 juta hingga 40 juta orang akan berkumpul untuk salat di masjid-masjid atau lapangan-lapangan terbuka di berbagai penjuru negeri itu, pada Rabu (21/7).

Dia mengatakan, sebulan setelah Idul Adha akan menjadi waktu yang kritis bagi negara itu yang hingga Senin (19/7) mencatat hampir 1,1 juta infeksi dan hampir 18.000 kematian akibat pandemi.

“Ada kelangkaan tempat tidur, dan ICU. Penyedia layanan kesehatan sudah kelelahan setelah lebih dari satu setengah tahun menghadapi pandemi. Jadi, jika situasinya memburuk, dan lebih banyak pasien harus datang ke rumah sakit, hampir tidak mungkin bagi penyedia layanan kesehatan untuk menangani situasi ini,” tambahnya.

(sst)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini