Penelitian: Pemimpin Wanita Terbukti Cegah Lebih Banyak Kematian Akibat Covid-19

Agregasi BBC Indonesia, · Sabtu 24 Juli 2021 17:32 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 24 18 2445435 penelitian-pemimpin-wanita-terbukti-cegah-lebih-banyak-kematian-akibat-covid-19-rrUefAi6ao.jpg Pemimpin wanita terbukti cegah lebih banyak kematian akibat pandemi Covid-19 (Foto: BBC)

BRASIL - Studi terbaru memberikan bukti bahwa kepemimpinan perempuan dapat menyelamatkan nyawa dalam pandemi Covid-19.

Kepemimpinan perempuan mendapat banyak perhatian dalam pandemi ini, dan untuk alasan yang bagus.

Pada awal pandemi, para pemimpin negara seperti Jacinta Ardern (Selandia Baru), Tsai Ing-wen (Taiwan), dan Sheikh Hasina (Bangladesh) dipuji karena mengambil langkah-langkah pencegahan terhadap Covid dan mencegah penyebaran penyakit tersebut.

Namun kaitan antara gender dan kebijakan kesehatan sebagian besar hanya berupa anekdot - sampai sekarang.

Studi terbaru di Brasil menunjukkan bahwa perempuan dalam posisi pemimpin dapat menyelamatkan lebih banyak nyawa dalam pandemi, dibandingkan laki-laki.

Para peneliti menemukan bahwa kota-kota yang dipimpin oleh perempuan di negara itu mencatat 43% lebih sedikit kematian dan 30% lebih sedikit perawatan di rumah sakit daripada kota-kota yang dipimpin oleh laki-laki.

(Baca juga: Biden Alokasikan Dana Darurat Rp1,4 Triliun untuk Pengungsi Afghanistan)

Mereka menjelaskan hal ini terkait dengan pengadopsian langkah-langkah nonfarmakologis - seperti mewajibkan penggunaan masker dan melarang kerumunan - yang lebih cenderung diberlakukan oleh perempuan.

"Temuan kami memberikan bukti kausal yang kredibel bahwa kinerja pemimpin perempuan lebih baik dari pemimpin laki-laki ketika menangani isu kebijakan global," tulis para peneliti.

"Hasil kami juga menunjukkan peran yang dapat dimainkan pemimpin lokal dalam membantah kebijakan buruk yang diterapkan oleh pemimpin populis di tingkat nasional,” lanjutnya.

 (Baca juga: AS Serukan Taliban Lakukan Negosiasi Serius)

  • Selamatkan nyawa

Kota-kota di Brasil yang dipimpin oleh perempuan mencatat 43% lebih sedikit kematian karena Covid dibandingkan kota yang dipimpin laki-laki, sementara jumlah pasien yang dirawat di RS 30% lebih sedikit.

Para peneliti mempersempit analisis mereka pada 5.500 kotamadya Brasil sampai 700 kota tempat terjadi persaingan ketat antara kandidat pria dan wanita pada pemilihan tahun 2016.

Hanya kota-kota tempat pemilihan digelar satu putaran yang diperhitungkan, yang berarti ukuran populasinya di bawah 200.000 penduduk.

Dengan menerapkan kriteria ini, para peneliti berniat mensimulasikan eksperimen "acak" sebisa mungkin.

Mereka akhirnya mendapatkan beberapa kota kecil dan menengah yang dapat dibandingkan dan peluangnya mendapatkan pemimpin pria atau wanita sama.

Berdasarkan statistik resmi, mereka mengamati bahwa kota yang diperintah oleh perempuan mencatat 43,7% lebih sedikit kematian karena Covid per 100.000 penduduk daripada kota yang diperintah oleh laki-laki.

Jumlah pasien yang dirawat di rumah sakit juga 30% lebih rendah.

Ini sejalan dengan kebijakan yang dipilih oleh para perempuan di tampuk kepemipinan.

Menurut penelitian, walikota perempuan lebih sering mengadopsi langkah-langkah pencegahan daripada laki-laki.

Penelitian tersebut menemukan, pemimpin perempuan 5,5% lebih mungkin melarang kerumunan, 8% lebih mungkin mewajibkan penggunaan masker, dan 14% lebih mungkin mewajibkan tes bagi pendatang ke kota mereka.

Para peneliti ingin menekankan pentingnya pilihan-pilihan terseut dengan mengestimasi jumlah nyawa yang dapat diselamatkan jika setengah dari semua kota di Brasil dipimpin oleh perempuan (saat ini, hanya sekitar 13% kota yang dipimpin perempuan).

Negara itu dapat menghitung 15% lebih sedikit kematian, kata mereka.

Atau dengan kata lain, mereka memperkirakan 75.000 warga Brasil dari 540.000 orang yang meninggal karena Covid mungkin akan masih hidup hari ini.

"Kami ingin menunjukkan skala relevansi fenomena ini dalam membuat kebijakan publik," kata Alexsandros Cavgias dari Universitas Barcelona dan salah satu peneliti dalam studi tersebut.

  • Pilihan kontras

Namun apa yang membuat para pemimpin perempuan menjadi pengambil keputusan yang lebih baik dari laki-laki?

Para peneliti memperhitungkan berbagai kemungkinan faktor, seperti usia dan pendidikan, namun tidak menemukan korelasi.

Mereka juga mendapati bahwa hasilnya tidak terkait dengan kebijakan apapun yang diambil sebelum pandemi yang dapat mengubah kesehatan suatu kota, seperti meningkatkan jumlah tempat tidur di rumah sakit atau berinvestasi dalam kesehatan publik.

Hal yang menarik, pemimpin perempuan mengadopsi langkah pembatasan yang ketat bahkan di kotamadya tempat presiden ekstrem-kanan Brasil, Jair Bolsonaro, menerima suara terbanyak.

Bolsonaro telah dengan keras menentang penggunaan masker dan segala jenis pembatasan, sampai ia sendiri melanggar aturan penjarakan sosial.

"Kenyataannya, ketika Anda melihat data tentang partai dan afiliasi politik, walikota perempuan bahkan cenderung jauh lebih konservatif dibandingkan sejawat pria mereka," kata salah satu peneliti, Raphael Bruce, dari Insper Institute.

Gagete-Miranda, peneliti kebijakan publik di Università' degli Studi di Milano Bicocca di Italia, (yang tidak terlibat dalam penelitian ini), mengatakan penjelasannya barangkali ada pada karakteristik yang kerap dikaitkan dengan perempuan: keengganan mengambil risiko.

"Ada penelitian yang menunjukkan bahwa perempuan, secara umum, lebih mematuhi langkah-langkah non-farmasi untuk melawan Covid-19, seperti penjarakan sosial dan penggunaan masker," terangnya kepada BBC.

"Jika perempuan secara umum melakukan ini, para walikota perempuan juga pasti melakukannya, dan kelompok kedua memiliki kekuatan politik untuk menuntut populasinya agar mengikutinya," tambahnya.

  • Kekuatan politik

Studi ini dilakukan oleh para peneliti di Universitas Sao Paulo dan Barcelona, serta Insper. Makalahnya masih dalam tahap pracetakdan belum melalui proses telaah sejawat alias peer-review.

Namun temuannya sejalan dengan beberapa studi lain di tempat lain yang mengarah ke kesimpulan serupa.

Makalah yang terbit pada 2020 di Journal of Applied Psychology menemukan bahwa negara bagian di AS yang memiliki gubernur perempuan mencatat kematian lebih sedikit dari yang dipimpin gubernur laki-laki.

Analisis lebih jauh menunjukkan bahwa perempuan juga menunjukkan lebih banyak empati dan kepercayaan diri dalam memberikan pengarahan kepada media.

Studi lainnya yang diterbitkan tahun ini oleh peneliti dari Universities of Liverpool and Reading menemukan bahwa negara-negara yang dipimpin oleh perempuan secara sistematis menunjukkan kinerja lebih baik dalam mengatasi Covid-19 dibandingkan negara yang dipimpin laki-laki.

Para peneliti memuji cara para pemimpin tersebut merespons pandemi dengan proaktif dan terkoordinasi.

Namun terlepas dari hasil yang baik, perempuan seringkali memiliki ruang politik yang lebih sedikit daripada laki-laki dan ini dapat mempengaruhi cara mereka menangani krisis.

"Kami paham bahwa politik Brasil masih didominasi laki-laki. Ini dapat membuat tantangan perempuan untuk dipilih lebih tinggi daripada laki-laki. Jadi hanya para perempuan yang lebih berkualitas yang akhirnya memenangkan atau hampir memenangkan pemilihan," ungkap Gagete-Miranda.

Bruce, salah satu peneliti dalam studi di Brasil, mengakui bahwa hal tersebut bisa saja terjadi.

"Mungkin walikota perempuan membuat keputusan yang lebih baik di bawah tekanan karena mereka sudah menghadapi lebih banyak tekanan dan tantangan dalam karier politik mereka," ujarnya.

"Tetapi itu bukan sesuatu yang bisa kita amati dan ukur menggunakan data statistik,” lanjutnya.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini