Para ahli juga menunjukkan meskipun spesimen memiliki nilai karat tinggi, semua batu di dalam cluster mungkin tidak berkualitas tinggi.
Temuan itu muncul ketika industri permata Sri Lanka telah menderita kerugian akibat penguncian yang disebabkan oleh pandemi.
Mereka yang bekerja di industri berharap "Batu Serendipity" sekarang akan menarik pembeli dan pakar internasional.
"Ini adalah spesimen safir bintang khusus, mungkin yang terbesar di dunia. Mengingat ukuran dan nilainya, kami pikir itu akan menarik minat kolektor pribadi atau museum," terang Thilak Weerasinghe, Ketua Otoritas Permata dan Perhiasan Nasional Sri Lanka.
(Susi Susanti)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.