Dituduh Mencuri dan Diusir dari Rumah, 3 Buruh Migran Berharap Bantuan KBRI Malaysia

Tim Okezone, Okezone · Kamis 29 Juli 2021 20:18 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 29 18 2448102 dituduh-mencuri-dan-diusir-dari-rumah-3-buruh-migran-berharap-bantuan-kbri-malaysia-9fT1qmggKa.jpg Buruh migran di Malaysia (Foto: istimewa)

MELAKA - Saiful (39) buruh migran asal Rangkasbitung, Lebak, Banten bersama kedua rekannya Hilmi Ridwan (49) dan istrinya Azizah (45) pasangan suami istri dari Lombok, NTB saat ini dihadapkan pada kasus hukum.

Ketiga WNI ini dilaporkan warga Malaysia, Nora Bt MD Shah (52) ke kepolisiaan wilayah Alor Gajah Melaka atas tuduhan pencurian peralatan peternakan ayam Haji Daut Poultry Farm yang berlokasi di Kampung Ramuan China Besar, Batu 22, Masjid Tanah Melaka.

Mereka dituduh mencuri peralatan antara lain makan-minum ayam, lampu, pompa air, mesin blower, dan beberapa peralatan peternakan lainnya.

“Tiba-tiba kami dijemput dua petugas polisi, lalu kami dibawa untuk diperiksa di kantor polisi Lubuk China, Mesjid Tanah Melaka pada Selasa 27 Juli lalu. Kami diperiksa dengan tuduhan mencuri, jelas tuduhan itu kami tolak, karena memang kami tidak mencuri,” kata Epul, salah satu terlapor, Kamis (29/7/2021).

Baca juga: Heboh! 5 Wanita Cantik Loncat Massal dari Sebuah Gedung, Penyebabnya Mengejutkan

Pria yang sudah menetap di negeri Jiran selama 10 tahun ini menjelaskan bahwa, barang-barang yang dilaporkan telah dicuri, sebenarnya diambil oleh pemiliknya, yaitu Tuan Ago, penyewa lahan yang sudah habis kontraknya satu bulan lalu.

“Itu barang-barang milik Tuan Ago. Dia sewa lahan dua tahun dan habis kontraknya Juni lalu, karena udah selesai, ya dia angkut barang-barang dia. Harusnya, pelapor bertanya kepada yang bersangkutan sebelum melaporkan kami ke polisi,” kata Epul, kesal.

Baca juga: Melintas Secara Ilegal, Prajurit TNI Amankan 17 Buruh Migran

Keterangan tersebut sudah disampaikan di hadapan petugas polisi dan juga Norah selaku pelapor. Hadir juga pada saat pemeriksaan Fauziah pemilik lahan sekaligus majikan ketiga WNI terlapor.

Setelah proses pemeriksaan, akhirnya polisi menyimpulkan bahwa tidak ada tindakan pencurian. Akan tetapi persoalan lain muncul dan harus dihadapi ketiga WNI ini. Ketiganya diminta untuk merobohkan rumah yang mereka tinggali di areal peternakan dan segera angkat kaki agar tidak memicu konflik baru.

“Karena tidak ada bukti, tuduhan tidak dilanjutkan, tapi kami diusir dari rumah yang kami bangun sendiri dan sudah tempati bertahun-tahun selama ini. Padahal lahan ini milik Fauziah yang menjadi majikan dan penjamin dalam passport kami. Sekarang kami harus pergi kemana,” ucap dia.

Dikisahkan Epul, lahan peternakan ayam awalnya dikelola oleh Fauziah selaku majikan mereka. Seizin Fauziah juga mereka membangun rumah dengan dana sendiri untuk mereka tinggali di areal peternakan.

“Sebenarnya sesuai aturan UU Tenaga Kerja yang berlaku, majikan yang harus menyediakan fasilitas, tapi kami bangun dengan uang sendiri, tidak apa yang penting bisa bekerja dengan baik,” tutur Epul.

Baca juga: Amitabh Bachchan Sediakan 10 Bus untuk Pulangkan Ratusan Buruh Terlantar

Namun dua tahun lalu, Fauziah tidak meneruskan usaha keluarganya tersebut dan memilih untuk menyewakan lahan kepada Tuan Ago, pengusaha peternakan ayam. Sejak saat itu, mereka beralih kerja kepada Tuan Ago.

“Kami tetap bekerja di peternakan ayam meskipun pemiliknya berbeda. Tapi dalam passport yang menjadi penjamin tetap Fauziah, sebagai majikan lama, dan tidak ada masalah,” ucapnya.

Baca juga: Buruh Migran Terus Berdatangan, Karantina Siap Menanti

Persoalan muncul, ketika Norah selaku penyewa lahan baru melihat barang-barang hilang, padahal ia mengira barang-barang tersebut milik Fauziah dan bisa ia gunakan untuk menjalankan bisnis peternakan ayamnya. Namun anggapan itu keliru karena semua barang yang ia lihat sebelumnya ternyata milik penyewa sebelumnya.

Meski kini ketiga WNI telah membuktikan diri tidak bersalah dari tuduhan pencurian, namun persoalan lain muncul. Ketiganya diminta polisi untuk segera merobohkan dan meninggalkan rumah yang selama ini mereka tinggali.

"Sekarang kami dikasih kesempatan hanya sebentar untuk kemas-kemas dan robohkan rumah. Kami tidak tahu harus tinggal di mana karena di pasport kami yang berlaku sampai April 2022 memang di sini,” kata Epul menjelaskan.

Baca juga: Buruh Migran Indonesia Masuk Program Kartu Pra-Kerja

Tidak hanya dituduh mencuri dan diusir untuk pergi dari rumah yang ditinggali, Hilmi Ridwan terlapor lainnya, terancam mengalami kerugian karena tidak dapat melanjutkan pengelolaan lahan sawit seluas 5 hektare yang ia sewa orangtua Fauziah, selaku pemilik lahan. Hal itu lantara ia tidak dapat menunjukkan bukti tertulis kepada Norah selaku pelapor.

“Kami meminta keadilan dan berharap KBRI Malaysia dapat membantu kami memberikan perlindungan hukum. Semoga permintaan ini mendapat respons agar kami mendapatkan hak-hak kami,” tuturnya berharap mendapat perhatian pemerintah.

Baca juga: BNPB Jawab Isu Miring Terkait Hotel Karantina Warga dari Luar Negeri

Pada kesempatan terpisah, Kongfur Rijal Alhuda, dari KBRI di Kuala Lumpur, Malaysia mengatakan sedang melakukan penelusuran kasus ini.

"Kami sedang berkoordinasi dengan KJRI Johor Bahru karena kebetulan Melaka adalah wilayah kerjanya KJRI Johor Bahru. KJRI sedang menelusuri lebih lanjut kasus ini dan akan menindaklanjuti sesuai ketentuan," tuturnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini