Pemberontak Berhasil Duduki Kota Warisan Dunia Unesco

Susi Susanti, Koran SI · Jum'at 06 Agustus 2021 09:34 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 06 18 2451731 pemberontak-berhasil-duduki-kota-warisan-dunia-unesco-VzMNisOrmY.jpg Pemberontak duduki kota warisan dunia Unesco (Foto: VON)

ETHOPIA - Pemberontak dari wilayah Tigray utara Ethiopia telah menguasai kota Lalibela, sebuah situs warisan dunia Unesco di wilayah tetangga Amhara.

Lalibela, rumah bagi gereja abad ke-13 yang dipahat dari batu, adalah situs suci bagi jutaan orang Kristen Ortodoks.

Wakil walikota Lalibela, Mandefro Tadesse, mengatakan kepada BBC bahwa kota itu berada di bawah kendali pemberontak Tigray.

Dia mengatakan tidak ada penembakan, tetapi penduduk melarikan diri dari kota dan dia khawatir tentang keamanan gereja-gereja bersejarah.

Ada 11 gereja gua monolitik abad pertengahan di Lalibela yang dipahat dari batu yang berasal dari abad ke-12 dan ke-13. Mereka dibangun sebagai pengganti ziarah ke Tanah Suci, yang tidak terjangkau pada saat itu.

(Baca juga: Wanita Ini Dituntut Usai Posting Foto 'Sex Toys' di Museum Seks, Terancam Penjara 3 Tahun)

"Ini adalah warisan dunia, dan kita harus bekerja sama untuk menjamin harta ini tetap terjaga," kata Mandefro.

Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) meminta pasukan Tigray untuk menghormati warisan budaya Lalibela, karena Washington menjadi semakin prihatin atas konflik tersebut.

Pejabat setempat mengatakan kepada BBC, warga telah melarikan diri dari serangan pemberontak. Ribuan orang tewas sejak perang pecah November lalu. Pertempuran sekarang menyebar ke Amhara dan Afar, wilayah lain yang berbatasan dengan Tigray.

(Baca juga: Biden Janji Beri Perlindungan Warga Hong Kong di AS Selama 18 Bulan)

Jutaan orang juga telah mengungsi. Pasukan pemberontak Tigray maupun tentara Ethiopia dan sekutunya telah dituduh melakukan pelanggaran hak asasi manusia dan kejahatan perang.

Pertempuran menyebar mengikuti keuntungan teritorial signifikan yang dibuat oleh pemberontak Front Pembebasan Rakyat Tigray (TPLF) pada Juni lalu. Termasuk merebut ibukota regional Tigray Mekelle setelah pasukan Ethiopia mundur dan pemerintah mengumumkan gencatan senjata sepihak.

TPLF adalah pemerintah daerah Tigray sampai digulingkan oleh pasukan federal November lalu.

Ini telah ditetapkan sebagai organisasi teroris oleh pemerintah Ethiopia. Namun, pemberontak mengatakan mereka adalah pemerintah daerah Tigray yang sah.

Awal pekan ini seorang jenderal pemberontak mengatakan kepada BBC bahwa kelompok itu bertujuan untuk memaksa pemerintah federal mencabut blokade di wilayah tersebut dan menyetujui solusi politik untuk krisis tersebut.

Pemerintah menyangkal ada blokade dan telah mengesampingkan pembicaraan. Namun dorongan TPLF ke Amhara dan Afar telah menuai kritik internasional, dan baik PBB maupun AS minggu ini menyerukan semua pihak untuk berhenti berperang.

Pemerintah Ethiopia mengatakan lebih dari 300.000 orang telah mengungsi di Amhara dan Afar.

Secara terpisah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan 175 truk yang membawa bantuan kemanusiaan telah tiba di Tigray.

Tetapi kepala Program Pangan Dunia PBB (WFP) memperingatkan bahwa lebih dari 100 truk dibutuhkan setiap hari untuk menjangkau jutaan orang yang membutuhkan.

Pekerja bantuan telah berjuang untuk mendapatkan akses ke sebagian besar Tigray karena ketidakamanan dan hambatan birokrasi.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini