JAKARTA – Kemahiran berbahasa Inggris menjadi salah satu bekal Gubernur Lemhannas RI, Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo dalam menggapai. Kisah ini dibagikan saat peluncuran buku “Tentara Kok Mikir: Inspirasi Out of the Box Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo” di Lemhannas RI pada Rabu (25/8/2021).
Agus adalah sosok perwira tinggi dengan karir yang cemerlang, meskipun tak terbilang mulus juga. Berbagai posisi strategis di TNI pernah didudukinya, antara lain Kepala Staf Teritorial TNI dan Wakil Ketua MPR.
Pernah tinggal di London selama tiga tahun mengikuti tugas ayahnya membuat Agus Widjojo fasih berbahasa Inggris. Ketika pulang dan bersekolah di Tanah Air nilainya untuk pelajaran bahasa Inggris selalu sempurna. Setelah lulus AKABRI dan menjadi perwira, kemahiran bahasa Inggrisnya makin berguna. Agus hampir selalu menjadi penerjemah dan ajudan kehormatan ketika ada kunjungan panglima dari negara sahabat.
“Saya langganan jadi ajudan kehormatan mendampingi tamu,” ujar Agus dalam keterangan tertulisnya.
Kemahiran Agus berbahasa Inggris bertahan sampai sekarang. Kuncinya, sering membaca buku dan kerap mempraktikkan kemampuan bahasa Inggrisnya dengan orang lain. Menurut Agus, belajar bahasa asing paling efektif dengan cara dicemplungkan dengan native speakers. “Semakin dicemplungkan ke native speakers, makin natural cara pengucapan dan idiomnya. Tapi kalau dia kembali ke sini dan tidak punya kesempatan praktik akan semakin hilang,” kata Agus.
Baca Juga : Agus Widjojo: Walau Ada Bencana Besar, Jangan Langsung Minta Tolong ke TNI
Dengan modal kemahiran berbahasa Inggris pula, Agus Widjojo banyak mendapat kesempatan sekolah dan penugasan ke luar negeri. Saat mengikuti pendidikan US Army Infantery officer Basic Course 4-71, Fort Benning 1971, ia menjadi lulusan Siswa Internasional Terbaik. Agus mengalahkan siswa dari sembilan negara antara lain Portugal dan Guatemala. “Saya mendapat nilai terbaik untuk karya tulis “11 Azas Kepemimpinan ABRI,” kata Agus Widjojo.
Buku ini juga mengangkat peran Agus Widjojo sebagai penyusun konsep Reformasi TNI dan pelaksanaan konsep itu ketika dia menjadi Wakil Ketua DPR/MPR mewakili TNI. Begitu pula keterlibatan Agus Widjojo sebagai anggota Komisi Kebenaran dan Persahabatan (KKP) RI-Timor Leste yang menangani dugaan pelanggaran HAM Indonesia di Timor Timur. Buku Tentara Kok Mikir ditulis oleh Bernarda Rurit dan disunting oleh Nugroho Dewanto Dan diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas.