Baca Juga : Penggali Saluran Air Peninggalan Zaman Belanda di Kota Bogor Mendadak Sakit
Ia pun menyatakan, jika belum ada kesepahaman, maka tafsir boleh/tidak boleh akan selalu menyertai perjalanan dialektika “ini kritik atau hinaan” dalam dinamika demokrasi bangsa ini.
"Dalam perspektif saya, mural adalah seni ruang publik yang “temporer”. Ada umurnya. Pelaku mural juga harus paham dan jangan baper, karena karyanya suatu hari akan hilang. Apalagi tanpa izin pemilik tembok. Bisa pudar tersapu hujan, dihapus aparat ataupun oleh hilang ditimpa pemural lainnya. Mari berdialog," ujarnya.
(Angkasa Yudhistira)