Putus Asa, Seorang Ayah di Afghanistan Gadaikan Putrinya untuk Beri Makan Keluarga

Rahman Asmardika, Okezone · Jum'at 10 September 2021 18:49 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 10 18 2469504 putus-asa-seorang-ayah-di-afghanistan-gadaikan-putrinya-untuk-beri-makan-keluarga-rPpLJX7agx.JPG Pengungsi Afghanistan. (Foto: Reuters)

KABUL – Keadaan ekonomi di Afghanistan carut marut pasca pengambilalihan kekuasaan oeh Taliban pada pertengahan bulan lalu. Dibekukannya miliaran dolar dana pemerintah Afghanistan yang diparkir di luar negeri oleh negara-negara Barat semakin menambah berat beban ekonomi di negara itu. 

Dengan nilai mata uang afghani yang runtuh dan harga-harga barang yang melonjak tinggi, banyak rakyat Afghanistan berusaha melakukan berbagai cara demi menyambung hidup mereka dan keluarga mereka.

BACA JUGA: PBB Peringatkan Afghanistan Butuh Dana, untuk Cegah Kehancuran Ekonomi dan Kelaparan 

Seorang ayah Afghanistan yang putus asa telah mengungkapkan bahwa dia siap untuk menjual putrinya yang berusia empat tahun seharga 20.000 afghani (sekira Rp3,3 juta) untuk memberi makan anggota keluarganya yang lain.

Mir Nazir, seorang mantan perwira polisi berusia 38 tahun dihadapkan pada keputusan sulit itu karena dia sudah tidak memiliki uang lagi.

Diwartakan The Times, Nazir telah tawar-menawar dengan seorang pemilik toko untuk menggadaikan anak itu di pasar Jada-e Maiwan di Kabul.

"Saya lebih memilih mati daripada harus menjual putri saya," katanya sebagaimana dilansir The Sun.

“Tetapi kematian saya sendiri tidak akan menyelamatkan siapa pun di keluarga saya. Siapa yang akan memberi makan anak-anak saya yang lain? Ini bukan tentang pilihan. Ini tentang keputusasaan.

BACA JUGA: Cegah Digunakan Taliban, AS Bekukan Rp142 Triliun Aset Negara Afghanistan

“Saya menerima tawaran dari pemilik toko, seorang pria yang saya kenal yang tidak memiliki anak.”

Dia mengatakan seorang pemilik toko menawarkan 20.000 afghani untuk putrinya Safia untuk tinggal bersamanya dan mulai bekerja di tokonya.

“Jika saya bisa mendapatkan 20.000 afghani untuk membelinya kembali, dia bilang saya bisa,” kata Nazir.

“Tapi saya tidak bisa menjual putri saya dengan harga semurah itu, jadi saya meminta 50.000. Kami masih berdiskusi.

"Dia mungkin memiliki masa depan yang lebih baik dengan bekerja di toko daripada tinggal bersamaku, dan harganya mungkin menyelamatkan keluargaku. 

Nazir melarikan diri ke Kabul bersama istri dan lima anaknya sebelum Taliban merebut ibu kota dan sekarang bekerja sebagai kuli di pasar tetapi upahnya tidak cukup untuk membayar sewa.

"Kami lega bahwa perang dan pertempuran telah berakhir, tetapi kami semua menghadapi musuh baru - kemiskinan," katanya.

Keadaan ekonomi Afghanistan yang mengerikan telah diperburuk oleh penarikan bantuan asing, yang menyumbang tiga perempat dari pengeluaran publik.

Cadangan uang pemerintahan sebelumnya juga telah dibekukan setelah Taliban mengambilalih kekuasaan.

Pada akhir Agustus, Program Pangan Dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa (WFP) memperingatkan bahwa Afghanistan akan segera kehabisan makanan. Dengan 18,5 juta orang di negara itu bergantung pada bantuan, WFP mengatakan sedang berjuang untuk mendapatkan pasokan makanan ke Afghanistan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini