Wanita Afghanistan Tidak Diizinkan Bekerja Bersama Laki-Laki

Vanessa Nathania, Okezone · Selasa 14 September 2021 14:14 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 14 18 2471120 wanita-afghanistan-tidak-diizinkan-bekerja-bersama-laki-laki-wzK807dEYZ.jpg Tokoh senior Taliban Waheedullah Hashimi (tengah) (Foto: Reuters)

KABUL - Seorang tokoh senior Taliban mengatakan, perempuan Afghanistan  tidak diizinkan untuk bekerja bersama laki-laki. Jika diterapkan secara formal aturan ini, maka akan secara efektif menghalangi para perempuan dari pekerjaan di kantor-kantor pemerintah, bank, perusahaan media dan seterusnya.

Seperti dilansir Reuters, Waheedullah Hashimi, seorang tokoh senior di Taliban yang dekat dengan kepemimpinan Taliban mengatakan bahwa kelompok itu akan sepenuhnya menerapkan versi syariah atau hukum Islam, meskipun ada tekanan dari masyarakat internasional untuk mengizinkan perempuan memiliki hak untuk bekerja di tempat yang mereka inginkan.

"Kami telah berjuang selama hampir 40 tahun untuk membawa sistem hukum syariah ke Afghanistan," kata Hashimi dalam sebuah wawancara. "Syariah tidak mengizinkan laki-laki dan perempuan untuk berkumpul atau duduk bersama di bawah satu atap,” lanjutnya.

"Laki-laki dan perempuan tidak bisa bekerja sama. Itu jelas. Mereka tidak diizinkan datang ke kantor kami dan bekerja di kementerian kami,” terangnya.

(Baca juga: Intel AS: Ada Ancaman Teroris Baru yang Lebih Besar Selain Afghanistan)

Hashimi mengatakan larangan terhadap perempuan juga akan berlaku untuk sektor-sektor seperti media dan perbankan, ketika perempuan menjadi semakin menonjol sejak Taliban jatuh pada 2001 dan pemerintah yang didukung Barat diusung.

Kontak antara laki-laki dan perempuan di luar rumah akan diperbolehkan dalam keadaan tertentu, misalnya saat berobat ke dokter laki-laki.

Perempuan juga akan diizinkan untuk belajar dan bekerja di sektor pendidikan dan medis. Namun keduanya harus dipisahkan.

"Kami tentu membutuhkan perempuan, misalnya dalam kedokteran, dalam pendidikan. Kami akan memiliki institusi terpisah untuk mereka, rumah sakit terpisah, universitas terpisah mungkin, sekolah terpisah, madrasah terpisah,” terangnya.

(Baca juga: Cara Unik Wanita Afghanistan Protes Kebijakan Taliban Terhadap Perempuan, Pakai Baju Tradisional Warna-warni)

Tidak jelas sejauh mana komentar Hashimi mencerminkan kebijakan pemerintah baru, meskipun tampaknya komentar Hashimi lebih banyak didengar oleh publik ketimbang komentar dari beberapa pejabat lain.

Sejak Taliban meraih kekuasaan bulan lalu, para pejabat Taliban mengatakan waanita akan dapat bekerja dan belajar dalam batas-batas yang ditetapkan oleh syariah.

Tetapi ada ketidakpastian yang meluas tentang efek praktis apa yang akan terjadi pada kemampuan para perempuan untuk mempertahankan pekerjaan mereka, melihat Taliban terakhir memerintah Afghanistan dari 1996-2001, perempuan dilarang bekerja dan berpendidikan.

Isu ini sangat penting bagi masyarakat internasional dan dapat berdampak pada jumlah bantuan lainnya yang diberikan kepada Afghanistan, yang saat ini berada dalam pergolakan krisis ekonomi.

Sebelumnya, juru bicara Taliban, Zabihullah Mujahid mengatakan kepada wartawan bahwa perempuan adalah bagian penting dari masyarakat dan mereka akan bekerja "di berbagai sektor".

Ia juga secara khusus mengikutsertakan pegawai perempuan dalam seruan agar birokrat pemerintah kembali bekerja.

Namun, pada kenyataannya, kabinet yang diumumkan pada 7 September tidak memiliki kehadiran wanita dan ada laporan luas tentang perempuan yang dipulangkan dari tempat kerja mereka.

Pada Minggu (12/9), Menteri pendidikan baru Taliban mengatakan perempuan bisa belajar di universitas, tetapi harus dipisahkan dari laki-laki.

Perempuan telah melakukan beberapa protes di seluruh Afghanistan, menuntut agar hak-hak yang mereka menangkan selama dua dekade terakhir dipertahankan. Beberapa demonstrasi telah dibubarkan oleh orang-orang bersenjata Taliban dengan melepaskan tembakan ke udara.

Peningkatan hak-hak perempuan - lebih terlihat di pusat kota daripada daerah pedesaan yang sangat konservatif - berulang kali disebut oleh Amerika Serikat (AS) sebagai salah satu keberhasilan terbesar selama beroperasi 20 tahun di Afghanistan, yang secara resmi berakhir pada 31 Agustus.

Pernyataan AS didukung oleh data Bank Dunia yang mencatat, tingkat partisipasi tenaga kerja perempuan mencapai 23% pada tahun 2020, di mana sebelumnya berada di titik nol, ketika Taliban terakhir memerintah.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini