Kuatnya penanaman smong dalam ingatan masyarakat Simeulue menunjukkan bahwa smong telah mengalami proses pengendapan yang lama sehingga lambat laun menjadi memori kolektif dalam bentuk sistem nilai masyarakat. Dalam sistem masyarakat Simeulue, penyampaian sebuah pesan sampai tertanam menjadi memori kolektif masyarakat hanya bisa dilakukan melalui media lisan.
Berikut bunyi senandung Smong sebagai peringatan dini tsunami yang telah turun temurun menjadi kearifan lokal warga Simeulu:
Enggel mon sao curito (dengarlah sebuah kisah)
Inang maso semonan (pada zaman dahulu kala)
Manoknop sao fano (tenggelam sebuah desa)
Uwi lah da sesewan (begitulah dituturkan)
Unen ne alek linon (Diawali oleh gempa)
Fesang bakat ne mali (disusul ombak raksasa)
Manoknop sao hampong (tenggelam seluruh negeri)
Tibo-tibo mawi (secara tiba-tiba)
Angalinon ne mali (Jika gempanya kuat)
uwek suruik sahuli (disusul air yang surut)
Maheya mihawali (segeralah cari tempat)
Fano me singa tenggi (dataran tinggi agar selamat)
Ede smong kahanne (Itulah smong namanya)
Turiang da nenekta (sejarah nenek moyang kita)
Miredem teher ere (Ingatlah ini semua)
Pesan da navi da (pesan dan nasihatnya)
(Fakhrizal Fakhri )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.