Mantan pengurus Ikatan Mahasiswa dan Pemuda Aceh (IMAPA) menerangkan smong merupakan kearifan lokal masyarakat Simeulue yang terbukti telah menyelamatkan mereka dari tsunami dan juga gempa-gempa besar pascatsunami.
Pada saat gempa dan tsunami Aceh pada 2004 lalu di seluruh wilayah Kabupaten Simeulue lebih dari 1.700 rumah hancur tersapu tsunami, akan tetapi jumlah korban jiwa yang meninggal adalah 6 jiwa.
Masyarakat dunia yang juga mengetahui lemahnya sistem peringatan dini tsunami di sepanjang pantai barat Sumatera takjub melihat keajaiban yang terjadi di Pulau Simeulue.
Istilah smong dikenal masyarakat Simeulue setelah tragedi tsunami pada hari Jumat, 4 Januari 1907 silam. Gempa disertai tsunami dahsyat yang terjadi di wilayah perairan Simeulue masih pada zaman penjajahan Hindia Belanda. Kejadian tsunami ini tercatat dalam buku Belanda S-GRAVENHAGE, MARTINUSNIJHOF, tahun 1916 yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Baca juga: Daftar Wilayah Jawa Timur yang Berpotensi Tsunami Setinggi 28 Meter
Ditinjau dari sisi linguistik, terbentuknya kata smong cukup dekat dengan bunyi yang mendengung saat ombak menyerang bergulung-gulung. Di masyarakat Simeulue, smong berarti ombak besar yang datang bergulung-gulung yang didahului oleh gempa yang sangat besar.
"Fenomena yang dikenal masyarakat dunia dengan istilah tsunami. Pemahaman tentang smöng ini tertanam kuat dalam memori masyarakat Simeulue dari anak-anak sampai orangtua," tulis dia dalam Opini Okezone yang terbit pada Jumat 20 April 2021 silam.
Baca juga: Selain Pacitan, Ini Daerah di Jatim Berpotensi Diterjang Tsunami Setinggi 29 Meter