Pria Ini Tuntut Sekolah Rp14 Miliar karena Rambut Anaknya Dipotong

Vanessa Nathania, Okezone · Jum'at 17 September 2021 14:51 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 17 18 2472891 pria-ini-tuntut-sekolah-rp14-miliar-karena-rambut-anaknya-dipotong-CTETVUbJuw.jpg Ayah tuntut sekolah Rp14 miliar karena rambut anaknya dipotong tanpa izin (Foto: AP)

MICHIGAN - Ayah dari seorang gadis tujuh tahun menggugat sekolah dan dua anggota staf sebesar USD1 juta (Rp 14 miliar). Gugatan ini terkait tindakan guru yang memotong rambut anaknya tanpa izin orang tua.

Tuntutan perkara Jimmy Hoffmeyer ini terkait hak konstitusional putrinya yang memiliki ras campuran yang telah dilanggar. Dia telah mengeluarkan putrinya dari sekolah tersebut.

Penyelidikan oleh kawasan sekolah menyimpulkan bahwa pada Juli seorang guru telah melanggar kebijakan sekolah yakni tidak bertindak dengan etnosentris.

Guru itu sudah ditegur, tetapi masih diizinkan untuk mempertahankan pekerjaannya di Sekolah Dasar Ganiard, Mount Pleasant.

(Baca juga: Sekolah Ditutup Akibat Covid-19, Guru Terpaksa Mengajar di Jalan)

April lalu, Jimmy Hoffmeyer mengatakan kepada Associated Press, bahwa suatu hari saat putrinya, Jurnee kembali ke rumah dari sekolah, sebagian besar rambut di satu sisi kepalanya dipotong. Seorang teman sekelasnya memotong rambut keriting panjang Jurnee menggunakan gunting di bus sekolah.

Dua hari kemudian, Jurnee pulang dari sekolah dengan rambut di sisi lain kepalanya dipotong. Dia pun telah telah dibawa ke penata rambut dan dibentuk potongan asimetris untuk perbedaan panjangnya yang tidak terlalu mencolok.

(Baca juga: Ketakutan, Guru Ini Rela Bayar 'Perdagangan Manusia' untuk Keluar dari Afghanistan Usai Serangan Bom)

Hoffmeyer mengatakan, dia pikir anak lainnya yang melakukannya, tetapi Jurnee mengatakan kepadanya bahwa itu adalah ulah seorang guru.

"Guru memotong rambutnya untuk meratakannya," katanya kepada AP.

MLive.com melaporkan gugatan itu diajukan di pengadilan federal di Michigan barat terhadap Sekolah Umum Mount Pleasant dan dua staf pengajar,

Selain melanggar hak konstitusional anak, gugatan itu juga menduga adanya diskriminasi rasial, intimidasi etnis, penderitaan emosional yang disengaja dan penyerangan.

“Kawasan sekolah gagal melatih, memantau, mengarahkan, mendisiplinkan, dan mengawasi karyawan mereka dengan benar dan mengetahui atau seharusnya mengetahui bahwa karyawan terlibat dalam perilaku yang dikeluhkan karena pelatihan, kebiasaan, prosedur, dan kebijakan yang tidak tepat, dan kurangnya disiplin yang ada untuk karyawan," isi gugatan itu.

Belum ada tanggapan resmi yang diajukan oleh para terdakwa dan belum ada komentar dari sekolah.

(sst)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini