Cerita Sedih Para Migran yang Harus Berjalan Kaki Lewati 11 Negara

Vanessa Nathania, Okezone · Jum'at 24 September 2021 17:27 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 24 18 2476438 cerita-sedih-para-migran-yang-harus-berjalan-kaki-lewati-11-negara-5uzb0WxFoh.jpg Kisah sedih para migran yang lewati 11 negara dengan berjalan kaki (Foto: BBC)

MEKSIKO - Perjuangan migran Haiti dalam mencari suaka, masih terus berlanjut. Salah satu diantaranya adalah Janvier, imigran dari Haiti yang mencoba datang ke Amerika Serikat (AS). Melewati berbagai negara dengan berjalan kaki adalah hal yang sudah pernah ia dan keluarganya alami.

Namun, berbeda saat akhir musim panas, hanya sedikit migran yang mencoba menyeberang ke AS dari kota perbatasan Meksiko, Mexicali. Suhunya sangat panas yakni sekitar 40 derajat Celcius. Di luar kota tetangga AS, Calexico, terbentang gurun bermil-mil yang tidak mudah dilalui.

Mencoba melakukan perjalanan dalam panas yang membakar akan menjadi langkah gila. Namun para migran yang berkumpul di sebuah restoran Haiti beberapa blok dari tembok perbatasan telah melalui hal yang lebih buruk. Terutama Fiterson Janvier dan keluarganya.

 (Baca juga: Kerusuhan Pecah Usai Imigran yang Dideportasi Tiba di Bandara, Tas Dibuang Keluar dari Pesawat)

Saat mereka menyelesaikan hidangan ayam, nasi-dan-kacang dan pisang raja ala Kreol, ada kelelahan dan ketidakpercayaan di mata mereka. Kelelahan pada perjalanan mereka dari Amerika Selatan selama beberapa bulan terakhir, dan ketidakpercayaan pada beberapa hal yang mereka saksikan dan alami di sepanjang jalan.

"Saya meninggalkan negara saya pada 26 Agustus 2014," terang Janvier.

Setelah menghabiskan beberapa tahun di Brasil, dia pindah ke Chili, bertemu istrinya dan mereka memiliki seorang anak. Tapi karena mereka tidak bisa menaikkan status sosial mereka di Amerika Selatan, mereka pun memutuskan ini waktu yang tepat untuk mencoba menjangkau AS.

 (Baca juga: 10.000 Imigran Ilegal Penuhi Perbatasan AS - Meksiko)

"Kami telah melewati sebelas negara yang berbeda untuk sampai ke sini. Bolivia, Peru, Ekuador, dan lainnya,” lanjutnya.

Dia menggambarkan perjalanan luar biasa dengan berjalan kaki dan dengan bus, yang melintasi Andes dan Lembah Amazon. Perjalanan ini menjadi perjalanan yang sangat menyiksa.

Saat dia membawa keluarga mudanya melintasi Darien Gap, tujuh hari melewati hutan lebat antara Kolombia dan Panama, Janvier mengatakan dia melihat mayat migran Haiti dan Kuba lainnya.

Dia juga menjelaskan apa yang dia miliki dirampok oleh "bandit", kemungkinan besar anggota geng narkoba dan penyelundup manusia yang beroperasi di wilayah tersebut. Dia mengatakan beberapa wanita diperkosa, meskipun istrinya berhasil bersembunyi dengan anaknya ketika geng itu muncul.

Kelompok hak migran memperkirakan bahwa di Meksiko saja sebanyak 80% migran telah menjadi korban, diperas atau dianiaya dalam perjalanan mereka, banyak diantaranya dilakukan oleh oknum polisi dan otoritas imigrasi.

Tidak sampai di situ saja, di sepanjang jalan Janvier menerima kabar buruk dari rumah. Ketika gempa berkekuatan 7,2 melanda Haiti pada Agustus lalu, kota yang terkena dampak terburuk adalah Les Cayes - kampung halamannya.

Ibunya termasuk di antara 2.200 orang yang tewas dalam gempa tersebut, terperangkap di bawah reruntuhan rumah keluarganya. Ayahnya kehilangan satu kaki. Saat menecritakan hal ini, dia mulai menahan air mata.

"Saya harus terus berjalan. Ayah saya tidak punya siapa-siapa sekarang, satu-satunya orang yang bisa mengiriminya uang adalah saudara laki-laki saya [di AS]," katanya.

"Dan aku juga perlu membantu,” lanjutnya.

Jadi, ketakutan terbesar bagi Janvier, dan orang Haiti lainnya, bukanlah kematian di padang pasir tetapi deportasi.

Haiti berada pada titik terendah dalam beberapa tahun ini. Presiden dibunuh pada Juli lalu, kekerasan geng meningkat, dan negara ini bergulat dengan kehancuran ekonomi dan dampak perubahan iklim.

"Haiti seperti neraka bagi saya sekarang," katanya dengan serius.

"Tidak ada apa-apa untukku di sana. Tidak ada. Jika mereka akan mengirimku kembali, mereka mungkin juga membunuhku. Maka, akhiri saja semuanya,” lanjutnya.

Bukan hanya Janvier yang menyebut perjalanannya sebagai masalah hidup dan mati. Ini adalah sesuatu yang digaungkan oleh Kelly Overton, direktur eksekutif Border Kindness, yang menyediakan layanan pendidikan, kesehatan dan hukum bagi para migran di Mexicali.

"Tampaknya ada tingkat keputusasaan dari keluarga Haiti saat ini," katanya.

"Mereka mengatakan tidak ada pilihan untuk kembali, tidak ada tempat yang aman untuk kembali, tidak ada kemungkinan kehidupan yang layak untuk dijalani,” terangnya.

Di tengah ketidakpastian, impotensi - hampir tidak ada pilihan atas keadaannya - yang paling menyakiti Janvier.

"Jika saya bisa berbicara dengan Presiden," dia terdiam.

"Tapi siapa aku? Aku bukan siapa-siapa,” lanjutnya.

"Sepertinya dunia tidak menginginkan kita yang memiliki warna ini", sambil menunjuk kulit hitamnya. "Dunia ini tidak ingin melihat kita. Dan aku tidak tahu harus berbuat apa,” ungkapnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini