Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Mahfud Nilai Fenomena Buzzer sebagai Hama dan Konsekuensi Demokrasi

Riezky Maulana , Jurnalis-Rabu, 29 September 2021 |22:04 WIB
Mahfud Nilai Fenomena Buzzer sebagai Hama dan Konsekuensi Demokrasi
Menko Polhukam Mahfud MD. (Dok Okezone)
A
A
A

JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD, menilai buzzer di media sosial (medsos) sebagai hama demokrasi. Namun di sisi lain, ia menyebut hal itu sebagai konsekuensi demokrasi setelah Reformasi.

"Pastilah itu kita melihat itu (buzzer) sebagai hama demokrasi. Tapi, itu juga sebagai konsekuensi dari demokrasi," tutur Mahfud dalam sebuah diskusi daring, Rabu (29/9/2021) malam.

Dia menjelaskan apa yang dimaksud dengan konsekuensi demokrasi. Menurut dia, saat Soeharto masih menjabat sebagai Presiden, masyarakat yang hendak menyuarakan pendapatnya di ruang publik bisa saja dihilangkan. Namun, menurutnya hal itu tidaklah terjadi di masa sekarang.

"Kalau dulu zaman Pak Harto bicara tentang presiden jelek bisa hilang, enggak ketemu, sekarang kan orang bisa bicara apa saja. Tetapi kemudian mereka mengorganisir diri, kadang kala berkelompok lalu jadi buzzer nyerang ramai-ramai. Nah, hal yang begini memang penyakit, tapi itu adalah konsekuensi demokrasi," ucapnya.

Mahfud menyebut, ada pemahaman yang keliru soal definisi buzzer saat ini. Dia mengatakan, mayoritas masyarakat mengartikan buzzer secara spesifik adalah mereka yang membela Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Padahal, jelas Mahfud, yang menyerang Presiden juga tak kalah banyak. Itulah yang membuatnya sulit memahami definisi buzzer yang sesungguhnya.

Baca Juga : 56 Pegawai KPK Direkrut Jadi ASN Polri, Mahfud MD: Tak Otomatis Jadi Penyidik

"Selalu dikatakan kalau orang membela Jokowi disebut buzzer. Kalau menyerang orang yang tarolah dalam tanda petik dianggap terlalu kanan juga disebut buzzer," ucapnya.

"Tapi kalau mereka yang menyerang Jokowi tiap hari apa disebut buzzer apa ndak? Itu kan lebih banyak mereka yang menyerang daripada yang membela, kalau kita lihat ya. Sehingga saya agak sulit mendefinisikan yang buzzer itu yang mana," katanya melanjutkan.

Dia menuturkan, pemerintah sama sekali memakai jasa buzzer guna melakukan kontra narasi terhadap suara-suara kritis. Berdasarkan pengamatannya, Mahfud mengaku tak pernah melihat pengorganisasian buzzer dan sosok yang memeliharanya.

"Saya sendiri kan ada di Istana, katanya Istana memelihara buzzer. Saya enggak pernah lihat bagaimana memeliharanya itu. Wong saya juga tidak pernah melihat dan tidak tahu siapa itu yang mengorganisasikan," tuturnya.

(Erha Aprili Ramadhoni)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement