Dokter melakukan pemeriksaan toksikologi untuk memeriksa kadar Merkuri dalam darah remaja tersebut. Untungnya dia melewatkan semua pembuluh darah utama saat menyuntikkan merkuri, tetapi boroknya harus dipotong dan dia harus menjalani operasi cangkok kulit.
"Pasien tidak mengembangkan tanda-tanda klinis keracunan kronis, membuktikan bahwa injeksi Merkuri subkutan memiliki risiko toksisitas sistemik yang rendah, dan histopatologi memainkan peran penting dalam diagnosis,” tukas laporan itu.
(Angkasa Yudhistira)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.