Share

5 Fakta Fumio Kishida, PM Baru Jepang

Susi Susanti, Okezone · Senin 04 Oktober 2021 18:04 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 04 18 2481043 5-fakta-fumio-kishida-pm-baru-jepang-jcdriNBZZa.jpg PM baru Jepang Fumio Kishida (Foto: Reuters)

JAKARTAPerdana Menteri Jepang ke-100 resmi terpilih pada Senin (4/10/2021). Dia adalah Fumio Kishida, mantan Menteri Luar Negeri. Kishida menggantikan Yoshihide Suga setelah memenangkan mayoritas suara di kedua majelis parlemen. Berikut 5 fakta menariknya:

1. Terjun ke politik

Kishida merupakan politisi dan diplomat Jepang yang mulai terjun ke dunia politik sejak 1993 setelah sebelumnya, pada 1987 lebih dulu menjadi sekretaris dari seorang anggota DPR.

Pada September tahun ini dia memenangkan pemilihan kepemimpinan partai setelah mantan Perdana Menteri Yoshihide Suga mundur dan memutuskan tak mencalonkan diri lagi.

(Baca juga: Fumio Kishida, Penggemar Bisbol yang Jadi PM Ke-100 Jepang)

2. Penggemar bisbol

Pria kelahiran Shibuya-ku, Tokyo pada 29 Juli 1957 itu adalah seorang lulusan fakultas hukum Waseda University. Penggemar bisbol itu diketahui memiliki tiga anak laki-laki, dan dikenal sebagai sosok yang senang minum.

3. Lahir dari keluarga politisi

Kishida lahir di keluarga politisi. Ayahnya, Fumitake Kishida dan kakeknya, Masaki Kishida adalah mantan anggota majelis rendah Jepang. Kishida juga berkerabat jauh dengan Perdana Menteri sebelumnya, Kiichi Miyazawa. Lingkungan keluarga ini membuat Kishida memutuskan untuk terjun ke dunia politik.

(Baca juga: Fumio Kishida Resmi Jadi Perdana Menteri Jepang Ke-100)

4. Pernah menjadi menteri

Dilansir dari website resmi Menteri Luar Negeri Jepang, jika dilihat, karier politiknya tidak hanya menjadi seorang anggota dewan. Dia juga pernah menjabat sebagai menteri. Dia pernah menjadi Menteri Urusan Okinawa (2007-2008), Menteri Kebijakan Luar Angkasa dan Urusan Konsumen (2008), serta Menteri Luar Negeri dalam Kabinet Abe (2012-2017).

5. Janji politik

Selama kampanye kepemimpinannya, Kishida berjanji akan menghabiskan puluhan triliun yen untuk merangsang pertumbuhan ekonomi, memprioritaskan masyarakat berpenghasilan rendah, daerah yang kesulitan, dan industry pariwisata.

Dia merasa yakin bisa membawa Jepang jauh lebih baik dari kebijakan ekonomi neoliberal Abe, atau disebut “Abenomics” yang dinilai semakin membuat pendapatan masyarakat terpuruk.

Baca Juga: Saatnya Anak Muda Bangkit Bersama untuk Indonesia Bersama Astra

(sst)

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini