Share

Korban Pelecehan Seksual di Gereja Katolik Tuntut Kompensasi Usai Penyelidikan Diungkap ke Publik

Susi Susanti, Okezone · Rabu 06 Oktober 2021 10:27 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 06 18 2481990 korban-pelecehan-seksual-di-gereja-katolik-tuntut-kompensasi-usai-penyelidikan-diungkap-ke-publik-f2Gko4auix.jpg Juuru bicara korban pelecehan seksual meminta tindakan nyata usai penyelidikan diungkap ke publik (Foto: AFP)

PRANCIS - Para korban pelecehan seksual di Gereja Katolik Prancis telah menuntut tindakan nyata setelah publikasi laporan penyelidikan baru yang memberatkan mereka.

Menurut laporan tersebut, sejak 1950, pendeta di organisasi tersebut telah melakukan pelecehan seksual terhadap sekitar 216.000 anak - kebanyakan anak laki-laki.

Mereka yang dilecehkan menuntut kompensasi setelah masalah itu diungkapkan ke publik.

François Devaux, yang mendirikan asosiasi mantan korban La Parole Libérée (Kebebasan berbicara), mengatakan telah terjadi pengkhianatan kepercayaan, pengkhianatan moral, dan pengkhianatan terhadap anak-anak.

Dia meminta ganti rugi bagi para korban. "Anda harus membayar semua kejahatan ini," katanya dua kali di atas panggung pada acara peluncuran laporan tersebut.

(Baca juga: 330.000 Anak Diperkirakan Jadi Korban Pelecehan Seks Gereja Katolik Selama 70 Tahun)

Korban selamat lainnya, Olivier Savignac, yang merupakan kepala asosiasi korban Parler et Revivre (Bicaralah dan Hidupkan lagi), menggambarkan laporan itu sebagai "gempa bumi". Dia juga menyerukan "kompensasi nyata" bagi mereka yang terkena dampak.

"Ini bukan hanya beberapa ribu euro - dengan sedikit pembayaran, kami menghapusnya. Tidak. Ini tentang kompensasi nyata berdasarkan penderitaan setiap orang,” ungkapnya.

 (Baca juga: Penyelidikan: Ribuan Pedofil Telah Beroperasi di Gereja Katolik, Pelaku Pelecehan hingga 3.200 Pendeta)

Sekelompok asosiasi korban mengatakan mereka mengharapkan "tanggapan yang jelas dan konkret oleh Gereja" sehubungan dengan penyelidikan tersebut.

Gereja Prancis sebelumnya telah mengumumkan rencana untuk "kontribusi keuangan" kepada para korban, mulai tahun depan.

Menurut laporan itu setidaknya ada 2.900-3.200 pelaku. Jumlah anak-anak yang dilecehkan di Prancis bisa meningkat menjadi 330.000, bila memperhitungkan pelanggaran yang dilakukan oleh anggota awam Gereja seperti guru di sekolah Katolik, dan juga menyerukan agar para korban diberi kompensasi.

Pernyataan Vatikan mengatakan Paus Fransiskus merasa ‘terluka dan sedih’ saat mendengar tentang temuan penyelidikan. Paus telah menyatakan "kesedihan mendalam" bagi para korban, memuji "keberanian mereka untuk maju".

Rilis laporan tersebut menyusul sejumlah klaim pelecehan dan penuntutan terhadap pejabat Gereja Katolik di seluruh dunia.

Penyelidikan independen ditugaskan oleh Gereja Katolik Prancis pada 2018. Proses penyelidikan ini menghabiskan lebih dari dua setengah tahun menyisir pengadilan, polisi dan catatan Gereja. Termasuk berbicara kepada para korban dan saksi.

Sebagian besar kasus yang dinilai oleh penyelidikan dianggap terlalu tua untuk dituntut di bawah hukum Prancis.

  • 'Korban tidak dipercaya'

Laporan setebal ampir 2.500 halaman, mengatakan "sebagian besar" korban adalah anak laki-laki, banyak dari mereka berusia antara 10 dan 13 tahun.

Dikatakan bahwa Gereja tidak hanya gagal mencegah pelecehan tetapi juga gagal melaporkannya, kadang-kadang dengan sengaja menempatkan anak-anak dalam kontak dengan pemangsa.

"Ada sejumlah besar kelalaian, kekurangan, kebungkaman, penyembunyian institusional," kata kepala penyelidikan, Jean-Marc Sauvé, kepada wartawan, Selasa (5/10).

Dia mengatakan bahwa sampai awal tahun 2000-an, Gereja telah menunjukkan "ketidakpedulian yang mendalam, total dan bahkan kejam" terhadap para korban.

"Korban tidak dipercaya, tidak didengarkan. Ketika didengarkan, mereka dianggap mungkin ikut andil atas apa yang menimpa mereka," jelasnya.

Dia menambahkan bahwa pelecehan seksual di dalam Gereja Katolik terus menjadi masalah.

Sementara komisi menemukan bukti sebanyak 3.200 pelaku - dari total 115.000 pendeta dan pastor lainnya, namun jumlah itu diperkirakan telalu sedikit.

"Gereja Katolik, setelah lingkaran keluarga dan teman, adalah lingkungan yang memiliki prevalensi tertinggi kekerasan seksual," kata laporan itu.

Selain itu, penyelidikan menemukan bahwa sekitar 60% pria dan wanita yang dilecehkan telah menghadapi masalah besar dalam kehidupan emosional atau seksual mereka.

Hanya segelintir kasus yang dicakup oleh penyelidikan yang telah mendorong tindakan disipliner, apalagi penuntutan pidana.

Meskipun kebanyakan kasus sekarang terlalu tua untuk dituntut melalui pengadilan, penyelidikan meminta Gereja untuk bertanggung jawab atas apa yang terjadi. Termasuk memberikan kompensasi kepada para korban.

Walaupun kompensasi finansial tidak akan mengatasi trauma yang dialami para korban, namun hal itu sangat diperlukan karena menyelesaikan proses pengakuan akan korban yang telah menderita da dirugikan.

Laporan ini juga membuat serangkaian rekomendasi tentang bagaimana mencegah pelecehan, termasuk melatih para pendeta dan pastor lainnya, dan mendorong kebijakan untuk mengenali korban.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini