Sofi AW kembali meyakinkan bahwa bapak itu memang sudah berada di Madinah, namun dia tetap tidak percaya. Selain Sofi AW, teman-teman rombongan dan keluarganya juga sudah mencoba memberitahu dan hasilnya pun sama.
Untuk meyakinkan jamaah tersebut, dia dibawa sholat maghrib di Masjid Nabawi sambil diperlihatkan kondisi di sekitarnya yang jelas berbeda dengan Indonesia.
Lucunya, saat jamaah itu melihat orang-orang berjubah putih dengan jenggot panjang, dia beranggapan mereka adalah tamu-tamu negara yang datang ke salah satu masjid di daerah asalnya. Dia tetap belum menyadarinya, meskipun dia juga sudah membawa satu botol berisi air zamzam, dia tetap tidak yakin berada di Madinah.
Kisahnya tidak berhenti di situ, dia bahkan sempat hilang dan ditemukan oleh seorang penjaga restoran yang berasal dari Indonesia, karena bersikeras ingin pulang tapi tidak diantar-antar.
Bahkan ia juga tidak bisa melihat Kakbah yang ada di depannya. Ia tetap tidak merasa berada di kota suci Makkah.
Mengantisipasi hilang kembali jamaah umroh tersebut, ia akhirnya harus menggunakan kursi roda saat sedang melaksanakan thowaf sa’i. Anehnya, lagi-lagi saat itu ia merasakan hanya sedang berkeliling naik sepeda tanpa menyadari sebenarnya ia sudah berada di Makkah.
Saat dia melaksanakan salat asar di Masjidil Haram dengan posisi tepat di depan Ka’bah, bapak ini merasa itu hanyalah sebuah gambar yang sedang ia lihat.
Usut punya usut, ternyata jamaah ini diberangkatkan umroh oleh salah satu pejabat dari kota asalnya yang sebelumnya pada saat pemilu sudah berjanji jika diterima akan memberangkatkan umroh masyarakat di sana. Meskipun tidak disebutkan secara pasti jumlah total yang diberangkatkan.