Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Cemas Putrinya Jadi Perawan Tua, Janda Calon Arang Usik Kewibawaan Raja Airlangga

Solichan Arif , Jurnalis-Sabtu, 09 Oktober 2021 |16:01 WIB
 Cemas Putrinya Jadi Perawan Tua, Janda Calon Arang Usik Kewibawaan Raja Airlangga
Calon Arang (foto: ist)
A
A
A

Bahula sengaja mengawasi, dan lalu bertanya kepada istrinya, Ratna Manggali : "Dinda, adikku tercinta, mengapakah ibu selalu pergi malam hari? Saya khawatir Dinda." Melalui mulut anaknya sendiri, rahasia kesaktian Calon Arang pun bocor. Ratna Manggali cerita, ibunya ke kuburan untuk menjalankan sihir. Sihir itulah yang mengakibatkan terjadinya pagebluk.

Mpu Bahula juga berhasil menyentuh lipyakara. Sastra Lipyakara merupakan buku suci yang berisi hal utama untuk jalan kebaikan menuju kesempurnaan, puncak rahasia pengetahuan. Calon Arang sengaja membelokkan untuk kesaktian sihir dan kesengsaraan. Bahula memperlihatkan kitab Lipyakara kepada Mpu Baradah, gurunya.

Rahasia kesaktian Calon Arang yang selama ini sulit terkalahkan, terungkap. Dengan bekal pengetahuan yang didapat dari muridnya, Mpu Baradah menyatroni Calon Arang. Saat bertemu Mpu Baradah, Calon Arang memperlihatkan keramahan sebagai besan. Janda Jirah itu juga meminta Sang Bogiswara Baradah meruwatnya.

"Mohon diruwatlah sebagai besan". Mpu Baradah melihat dosa Calon Arang teramat besar, dan karenannya permintaan itu ditolaknya mentah-mentah. Seketika itu Calon Arang murka. Dari mata, mulut, hidung, telinga muncul kobaran api yang langsung menyambar, membakar tumbuhan yang ada di sekelilingnya.

Tapi api tidak mampu menghanguskan tubuh Mpu Baradah. "Saya tidak mati kau sihir, Besan. Aku ambil nyawamu semoga kamu mati di tempatmu berdiri". Karena rahasia kesaktiannya sudah terbongkar. Dengan merapal asta capala, Mpu Baradah berhasil menumpas Calon Arang.

Perempuan tukang teluh, penyembah Batari Durga di kuburan yang ritualnya memakai darah dan organ manusia itu, mati seketika di tempatnya berdiri. Rakyat Kediri kembali tentram. Kewibawaan Raja Airlangga kembali terjaga, yang kelak kemudian membagi kekuasaannya menjadi Kerajaan Kediri atau Daha dengan Kerajaan Jenggala.

"Lalu bagaimana sikap Ratna Manggali, apakah akan saling menyalahkan sepanjang hayat. Suatu saat istri sadar menimbang antara cinta dan tipu muslihat, pula akan tersiksa menyalahkan diri karena ibu telah terkhianati," tulis Toeti Heraty dalam Calon Arang Korban Patriarki.

(Awaludin)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement