Pembelot Korut Kabur dari Penjara, China Tawarkan Rp325 Juta Bagi Warga yang Menemukan

Vanessa Nathania, Okezone · Sabtu 23 Oktober 2021 13:05 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 23 18 2490555 china-tawarkan-rp325-juta-bagi-warga-yang-temukan-pembelot-korut-yang-kabur-dari-penjara-flPzPH5SV4.jpg Pembelot Korut melarikan diri dari penjara China (Foto: CNN)

HONG KONG - Otoritas China telah menawarkan hadiah yang setara dengan lebih dari USD23.000 (Rp327 juta) untuk menangkap seorang pembelot Korea Utara (Korut) yang melarikan diri dari penjara di kota timur laut Jilin pada Senin (18/10).

Menurut keputusan pengadilan, narapidana, yang diidentifikasi sebagai Zhu Xianjian, memasuki China secara ilegal pada 2013. Tiga tahun kemudian, dia dijatuhi hukuman 11 tahun penjara karena kasus penyeberangan perbatasan ilegal, pencurian dan perampokan, yang akan diikuti dengan deportasi.

Zhu diketahui melarikan diri sekitar pukul 18.00 waktu setempat pada Senin (18/10), setelah naik ke gudang di sebelah gerbang saat narapidana sedang menyelesaikan pekerjaan di halaman.

Baca juga: Ditembak 5 Kali, Pembelot Korut Berhasil Melarikan Diri ke Korsel

Pemberitahuan tersebut menawarkan hadiah USD15.600 (Rp222 juta) untuk informasi yang membantu polisi menangkap Zhu. Penawaran itu bisa meningkat hingga USD23.400 (Rp333 juta) untuk petunjuk yang mengarah langsung ke penangkapannya. Jumlah ini hampir lima kali lipat pendapatan tahunan rata-rata penduduk perkotaan Jilin dan lebih dari sembilan kali lipat pendapatan tahunan penduduk pedesaan.

Pelarian dramatis Zhu tertangkap dalam video pengawasan yang diposting di media sosial (medsos) China oleh sejumlah media pemerintah.

Baca juga: Pembelot dan Mantan Kolonel Senior Korut Angkat Bicara Tentang Teror, Senjata, dan Narkoba

Dalam rekaman itu, Zhu terlihat memanjat gudang, berlari melintasi atap dan menggunakan tali untuk merusak pagar listrik yang mengelilingi dinding penjara, yang memicu serangkaian percikan api. Dia kemudian melangkah ke pagar untuk memanjat pagar logam lain dan menghilang di balik tembok tinggi, saat para tahanan dan penjaga melihatnya.

Menurut Global Times yang dikelola pemerintah, polisi telah memblokir pintu masuk ke desa-desa terdekat dan melakukan pencarian dari rumah ke rumah untuk menangkap Zhu. Video pengawasan lainnya menunjukkan Zhu berguling di tanah setelah melompat dari pagar yang tinggi. Dia berbaring diam beberapa saat sebelum bangkit dan melarikan diri.

Berita pelarian Zhu menarik perhatian publik luas di China, karena pembobolan penjara jarang terjadi. Menurut Global Times, tagar terkait di Weibo, platform mirip Twitter China, sudah ditonton lebih dari 22 juta kali.

Namun penyensoran segera dimulai. Pemberitahuan hadiah telah dihapus dari akun media sosial polisi penjara Jilin, dan beberapa tagar dan postingan terkait dihapus dari Weibo -- termasuk rekaman pelarian Zhu.

Menurut dokumen pengadilan, petugas baru lewat tengah malam pada 21 Juli 2013, ketika Zhu -- seorang penambang batu bara -- berenang menyeberangi sungai dari ujung timur laut Korea Utara ke sebuah desa China di kota Tumen, provinsi Jilin.

Dalam beberapa jam, dia masuk ke beberapa rumah di desa untuk mencuri uang, ponsel, sepatu kets, dan pakaian. Di rumah ketiga, seorang wanita tua menemukannya dan berteriak minta tolong.

"Saya mengambil pisau yang diikatkan di pinggang saya dan menikam punggung nenek itu. Kemudian saya perhatikan dia membawa tas. Saya mencoba menarik tas itu darinya tetapi dia tidak mau melepaskannya, jadi saya menikamnya beberapa kali lagi," kata Zhu seperti dikutip di pengadilan.

Zhu ditangkap beberapa jam kemudian ketika mencoba melarikan diri dengan taksi. Wanita tua itu menderita luka parah tetapi selamat.

Menurut laporan media setempat CCTV, saat di penjara, hukuman Zhu dikurangi dua kali - pada 2017 dan 2020 – karena Zhu menunjukkan penyesalan, disiplin yang baik dan secara aktif berpartisipasi dalam pendidikan ideologis, budaya, dan kerja keras. Menurut rencana dia akan dibebaskan pada Agustus 2023.

Human Rights Watch mengatakan pembelot Korea Utara yang dikirim kembali ke negara itu dapat menghadapi hukuman berat, termasuk penyiksaan dan pelecehan seksual.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini