3 Petani di Gresik Ngaku Anggota Interpol, Digaji Rp9 Juta

Ashadi Ikhsan (Koran Sindo), Koran SI · Kamis 28 Oktober 2021 00:32 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 27 519 2492830 3-petani-di-gresik-ngaku-anggota-interpol-digaji-rp9-juta-2eJXGLzCN1.jpg Tiga petani di Gresik mengaku sebagai anggota interpol. (Ashadi Iksan)

GRESIK - Warga Kecamatan Kedamean, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, digegerkan dengan keberadaan interpol gadungan.

Mereka adalah Suko Hariyono (52), Rio Anggara (24), dan Suhardi (47). Ketiganya mengaku menjadi anggota interpol Task Force Internasional Indonesia. Bahkan mereka mengaku mendapatkan gaji Rp9 juta per bulan.

Salah satu interpol gadungan, Suko Hariyono, warga Turirejo, Kecamatan Kedamean, optimis jika namanya tergabung dalam satuan interpol tersebut. Saat dilakukan penyidikan di Koramil Kedamean, petugas dibuat geleng-geleng.

"Saya punya seragamnya, ada kartu anggotanya. Nama saya tercatat dalam sana. Ini perjuangan, bukan lembaga abal-abal kalau saya bagian dari interpol," katanya saat di Koramil Kedamean, Rabu (27/10/2021).

Anehnya, meski sudah 4 tahun tergabung dalam interpol, pria yang setiap hari menjadi petani itu tidak pernah melakukan tugas yang berkaitan kemiliteran. Dia juga bahkan tidak digaji selama ia tergabung. Meski demikian, Suko Hariyono yakin betul jika gajinya sebesar Rp9 juta akan dicairkan.

Dari informasi yang dihimpun, organisasi interpol gadungan ini sudah memiliki banyak anggota. Untuk masuk dalam kesatuan ini, anggota diminta membayar pendaftaran sebesar Rp1 juta hingga lebih. Uang itu digunakan untuk mendapatkan seragam, sepatu, hingga kartu anggota.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Gresik Iptu Wahyu Rizki Saputro mengatakan, ada lima orang yang sempat diamankan. Salah satunya berpangkat jenderal. Dalam pemeriksaan itu, mereka terbukti hanya mengaku sebagai anggota interpol. Padahal, nama mereka sejatinya tidak ada di sana.

Baca Juga : Harun Masiku Akan Langsung Ditangkap jika Melintas di Negara Anggota Interpol

"Iya sempat diamankan. Kemudian kami lepaskan karena tidak ada unsur pidana. Tapi selanjutnya kami mintai wajib lapor agar selalu terpantau," kata Kasat Iptu Wahyu Rizki Saputro, Rabu (27/10/2021).

Sementara terkait biaya pendaftaran interpol gadungan sebesar Rp200 juta, Wahyu membantahnya. Sebab dalam pemeriksaan, mereka mengaku dana hasil jual tanah tersebut untuk membeli stand pasar di Balongpanggang.

"Tidak benar itu. Sudah kami konfirmasi. Uang Rp200 juta bukan untuk daftar, melanikan beli stand pasar," ujarnya.

Adapun terkait pengunaan logo TNI dan lambang negara, pihaknya mengaku perlu penyelidikan lebih lanjut. Sebab polisi akan tetap memantau kembali jika ada laporan dari masyarakat terkait adanya penipuan maupun yang dirugikan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini