2 Bulan Terakhir, 30 Kasus Kekerasan Wartawan Terjadi di Afghanistan

Agregasi VOA, · Jum'at 29 Oktober 2021 13:47 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 29 18 2493675 2-bulan-terakhir-30-kasus-kekerasan-wartawan-terjadi-di-afghanistan-gVlUcf6gSt.jpg Dua jurnalis Afghanistan yang mengalami kekerasan yang dilakukan Taliban (Foto: Reuters)

ISLAMABAD - Lebih dari 30 kasus kekerasan dan ancaman kekerasan terhadap wartawan di Afghanistan tercatat dalam dua bulan terakhir. Organisasi pemantau media, Serikat Jurnalis Nasional Afghanistan (ANJU), pada Rabu (27/10), mengatakan hampir 90% kasus itu dilakukan oleh Taliban.

Kepala organisasi nirlaba itu, Masorro Lutfi, mengatakan lebih dari 40% kasus itu berupa pemukulan, sedangkan 40% lainnya berupa ancaman kekerasan secara verbal. Sisanya, yakni kasus-kasus wartawan dipenjara selama sehari.

Menurut ANJU, kebanyakan kasus pada September dan Oktober terjadi di berbagai provinsi di Afghanistan, di luar ibu kota, Kabul. Namun, enam dari 30 kasus terjadi di Kabul.

Baca juga: Taliban Bunuh Manajer Radio Afghanistan, Culik Wartawan

Dalam konferensi pers pada Rabu (27/10), Lutfi mengatakan, meski sebagian besar kasus kekerasan – atau ancaman kekerasan – dilakukan oleh anggota Taliban, tiga dari 30 kasus dilakukan orang tidak dikenal.

Laporan itu terbit bersamaan dengan upaya pemerintahan Taliban di Afghanistan untuk membuka jalur diplomatik dengan komunitas internasional, yang sebagian besar enggan mengakui kepemimpinan Taliban secara resmi. Kelompok itu mencoba menempatkan diri sebagai penguasa yang bertanggung jawab, yang menjanjikan keamanan bagi seluruh rakyat.

Baca juga: Digeledah Taliban, Upaya Evakuasi Wartawan di Afghanistan Diintensifkan

Wakil menteri kebudayaan dan informasi sekaligus juru bicara Taliban, Zabihullah Mujahid, mengatakan kepada kantor berita Associated Press bahwa mereka tahu tentang kasus-kasus kekerasan terhadap wartawan dan tengah menyelidikinya agar dapat menghukum pelaku.

“Transisi baru dan ketidakprofesionalan rekan-rekan kami penyebabnya,” kata Mujahid, yang berjanji menyelesaikan masalah itu.

ISIS telah mengklaim bertanggung jawab atas penembakan awal Oktober lalu yang menewaskan wartawan Sayed Maroof Sadat, sepupunya, dan dua anggota Taliban, di provinsi Nangarhar, Afghanistan timur.

Sejak penarikan pasukan AS dari Afghanistan akhir Agustus lalu, sudah tiga wartawan, termasuk Sadat, tewas terbunuh di Afghanistan. Alireza Ahmadi, reporter Raha News Agency, dan Najma Sadeqi, pembawa berita Jahan-e-Sehat TV tewas dalam serangan bom bunuh diri di bandara Kabul ketika proses evakuasi berlangsung.

Pejabat Taliban telah berulang kali mendesak media massa untuk mematuhi hukum Islam, meski tanpa merincinya. Lutfi mengatakan, organisasinya tengah menyusun rancangan undang-undang bersama beberapa media dan pejabat Taliban, untuk memungkinkan media beroperasi secara normal.

Afghanistan telah sejak lama berbahaya bagi wartawan. Komisi Perlindungan Jurnalis atau The Committee to Protect Journalists mengatakan pada awal September bahwa 53 wartawan telah kehilangan nyawa di negara itu sejak tahun 2001, termasuk 33 pada 2018 saja.

Juli lalu, fotografer Reuters pemenang Hadiah Pulitzer tewas ketika sedang meliput bentrokan antara Taliban dan pasukan keamanan Afghanistan. Pada 2014, wartawan Agence France-Presse (AFP), bersama istri dan dua anaknya, termasuk dalam sembilan orang yang tewas ditembak Taliban ketika sedang makan malam di sebuah hotel di Kabul.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini