Taliban Perang Rahasia Lawan ISIS

Vanessa Nathania, Okezone · Jum'at 29 Oktober 2021 16:24 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 29 18 2493804 taliban-perang-rahasia-lawan-isis-TlvjGKv2oH.jpg Taliban perang melawan ISIS (Foto: BBC)

AFGHANISTAN – Beberapa hari ini, banyak mayat dibuang di pinggiran Kota Jalalabad, Afghanistan timur.

Beberapa orang telah ditembak atau digantung, dan beberapa yang lainnya dipenggal. Banyak diantara mereka didapati memiliki catatan tulisan tangan di dalam saku mereka, dengan menuduh mereka sebagai anggota ISIS cabang Afghanistan.

Tidak ada yang mengklaim bertanggung jawab atas pembunuhan di luar hukum yang mengerikan itu, tetapi Taliban secara luas dianggap yang bertanggung jawab pembunuhan ini. Seperti diketahui, ISIS melakukan bom bunuh diri pada Agustus lalu di luar bandara Kabul yang menewaskan lebih dari 150 orang, dan merupakan saingan sengit dari Taliban. Kedua kelompok sekarang terlibat dalam pertempuran suram dan berdarah. Jalalabad menjadi garis terdepan.

 Baca juga: Wamenkeu AS : Taliban Tak Diizinkan Akses Dana Cadangan Bank Sentral Afghanistan 

Afghanistan saat ini sudah lebih damai, setelah berakhirnya pemberontakan Taliban. Namun, di Jalalabad, pasukan mereka menghadapi serangan yang ditargetkan hampir setiap hari. ISIS, yang dikenal secara lokal sebagai "Daesh," menggunakan beberapa taktik tabrak lari yang sama yang berhasil digunakan Taliban terhadap pemerintah sebelumnya, termasuk bom pinggir jalan dan pembunuhan diam-diam. ISIS menuduh Taliban sebagai "murtad" karena tidak cukup berada pada garis keras; sedangkan Taliban menganggap ISIS sebagai ekstremis sesat.

Di provinsi Nangarhar, rumah bagi Jalalabad, kepala badan intelijen Taliban adalah Dr Bashir. Dia memiliki reputasi yang kejam. Dia sebelumnya membantu mengusir ISIS dari kubu kecil yang didirikannya di negara tetangga Kunar.

Dr Bashir menyangkal adanya kaitan dengan mayat-mayat yang dipajang di pinggir jalan, tetapi dengan bangga menyatakan anak buahnya telah menangkap puluhan anggota ISIS. Banyak pejuang ISIS yang telah dipenjara di bawah pemerintahan sebelumnya dan melarikan diri dari penjara selama kekacauan seputar pengambilalihan Taliban

 Baca juga: 5 Fakta Harga Opium Meroket di Afghanistan, Warga Berdalih Tak Punya Pilihan

Di depan umum, Dr Bashir dan anggota Taliban lainnya meremehkan ancaman ISIS. Mereka mengatakan perang di Afghanistan akhirnya berakhir, dan mereka membawa perdamaian dan keamanan ke Afghanistan. Apa pun yang merusak narasi itu tidak disukai. Dr Bashir melangkah lebih jauh dengan mengklaim bahwa ISIS bahkan tidak secara resmi ada di Afghanistan, terlepas dari semua bukti yang bertentangan.

"Nama 'Daesh' mengacu pada Suriah dan Irak," katanya.

"Tidak ada kelompok penjahat dengan nama 'Daesh' di Afghanistan,” lanjutnya.

Sebaliknya dia menyebut militan sebagai "sekelompok pengkhianat yang telah memberontak terhadap pemerintah Islam kita".

Faktanya, ISIS tidak hanya secara resmi hadir di Afghanistan, kelompok ini telah membentuk cabang atau "wilayah kekuasaan" tertentu yang meliputi negara tersebut, "IS-Khorasan" - menggunakan nama kuno untuk wilayah Asia Tengah. Kelompok ini pertama kali membangun kehadirannya di Afghanistan pada tahun 2015 dan melakukan serangan mengerikan di tahun-tahun berikutnya, tetapi sejak pengambilalihan Taliban, mereka telah meluncurkan bom bunuh diri di daerah-daerah di negara itu, setelah sebelumnya militant ISIS tidak pernah terlihat.

Awal bulan ini, ISIS menyerang masjid-masjid milik minoritas Syiah di kota utara Kunduz dan markas Taliban di Kandahar.

Dr Bashir menegaskan tidak ada alasan untuk khawatir. "Kami memberitahu dunia untuk tidak khawatir," katanya.

"Jika sekelompok kecil pengkhianat bangkit dan melakukan serangan seperti itu, insya Allah, sama seperti kita mengalahkan koalisi 52 negara di medan perang ... mereka juga akan dikalahkan,” lanjutnya.

Setelah berperang selama dua dekade, Dr Bashir menambahkan, mudah bagi kita untuk mencegah perang gerilya".

Tapi ketakutan atas pertumbuhan ISIS juga dimiliki oleh warga Afghanistan yang sudah kelelahan karena bertahun-tahun ada pertumpahan darah baik dengan negara-negara tetangga maupun negara Barat. Para pejabat Amerika telah memperingatkan bahwa ISIS di Afghanistan dapat mengembangkan kapasitas untuk meluncurkan serangan di luar negeri dalam waktu enam bulan hingga satu tahun.

Untuk saat ini, ISIS tidak menguasai wilayah manapun di Afghanistan. Kelompok itu sebelumnya berhasil membangun pangkalan di provinsi Nangarhar dan Kunar, sebelum diusir oleh serangan dari Taliban, serta unit tentara Afghanistan yang didukung oleh serangan udara Amerika. Kelompok itu hanya memiliki beberapa ribu pejuang dibandingkan dengan sekitar 70.000 anggota Taliban, yang sekarang dilengkapi dengan senjata Amerika.

Tetapi ada kekhawatiran bahwa ISIS akhirnya dapat merekrut beberapa pejuang asing Asia Tengah dan Pakistan lainnya yang diyakini berbasis di negara itu, serta anggota Taliban yang kecewa jika faksi-faksi saingan berkembang dalam kelompok itu di masa depan. AS berharap untuk terus menggunakan apa yang disebut serangan "over the horizon", diluncurkan dari luar Afghanistan, untuk menargetkan ISIS. Namun, Taliban optimis mampu menghadapi pemberontak ISIS sendirian.

Banyak anggota ISIS membelot ke militan dari Taliban dan Taliban-Pakistan, sebuah kelompok yang terkait tetapi terpisah.

"Kami mengenal mereka dengan sangat baik, dan mereka mengenal kami dengan sangat baik," kata seorang tokoh Taliban kepada wartawan BBC sambil tersenyum muram.

Dalam beberapa hari terakhir, puluhan anggota ISIS telah menyerah kepada pasukan Dr Bashir di Nangarhar. Satu, mantan anggota Taliban, memberi tahu BBC bahwa dia kecewa setelah membelot ke ISIS.

“Tidak seperti Taliban, yang telah berulang kali menekankan bahwa satu-satunya tujuan mereka adalah mendirikan "Imarah Islam" di Afghanistan, ISIS memang memiliki ambisi global,” terangnya kepada BBC.

“ISIS "akan mengeluarkan ancaman kepada semua orang, ke seluruh dunia. Mereka ingin membawa kekuasaan mereka ke seluruh dunia," katanya.

“Tapi "kata-kata berbeda dari tindakan," tambahnya.

"Mereka tidak cukup kuat untuk menguasai Afghanistan,” lanjutnya.

Banyak warga Afghanistan dengan lelah menyebut peningkatan serangan ISIS sebagai awal dari "permainan baru" di negara itu. Di Jalalabad, bukan hanya Taliban yang menjadi sasaran. Aktivis masyarakat sipil, Abdul Rahman Mawen sedang dalam perjalanan pulang dari sebuah pernikahan awal bulan ini, ketika orang-orang bersenjata menembaki kendaraannya. Dua putranya yang masih kecil, berusia 10 dan 12 tahun meringkuk di dalam mobil saat ayah mereka ditembak mati. ISIS mengeluarkan pernyataan singkat yang mengklaim bertanggung jawab atas penembakan itu.

Mewakili keluarga, saudara Abdul Rahman, Shad Noor merasa sedih. "Dari lubuk hati saya, ketika Taliban mengambil alih kekuasaan, kami sangat senang dan optimis: korupsi, pembunuhan, ledakan akan diberantas," katanya.

"Tapi sekarang kami menyadari sebuah fenomena baru sedang dipaksakan kepada kami, dengan nama Daesh,” ujarnya.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini