Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Asal Mula Cianjur, Sub Nagari Tempat Raden Djajasasana Menetap Bersama 100 Rakyatnya

Adi Haryanto , Jurnalis-Minggu, 31 Oktober 2021 |06:30 WIB
 Asal Mula Cianjur, Sub Nagari Tempat Raden Djajasasana Menetap Bersama 100 Rakyatnya
Pendopo Kabupaten Cianjur tahun 1920-an (foto: Humas Pemkab Cianjur)
A
A
A

Pada perjalanan waktu, Raden Djajasasana kemudian berhasil menahan serangan dari pasukan Banten dalam mempertahankan wilayah yang dibangunnya tersebut. Sehingga beliau dianugerahi gelar panglima (Wira Tanu) dan akhirnya dikenal dengan gelar Raden Aria Wira Tanu.

Dia kemudian mendirikan Nagari Sagara Herang dan menyebarkan Agama Islam ke daerah sekitarnya. Sementara itu Cikundul yang sebelumnya hanyalah merupakan sub nagari berubah menjadi ibu nagari tempat pemukiman rakyat Djajasasana. Tempat itulah yang menjadi cikal bakal lahirnya daerah bernama Cianjur (Tjiandjoer).

Raden Aria (R.A) Wira Tanu I kemuduian didapuk menjadi Dalem/Bupati Cianjur pertama dari tahun 1677 hingga 1691. Kemudian dilanjutkan oleh R.A. Wira Tanu II (1691-1707) dan R.A. Wira Tanu III (1707-1727). Kekuasaan dilanjutkan generasi R.A. Wira Tanu Datar IV, V, VI, dari tahun 1727-1813. Hingga kini sudah tercatat 37 Dalem/Bupati yang memimpin Cianjur.

Cianjur juga dikenal dengan filosopi tentang tiga aspek keparipurnaan hidup, yakni Ngaos, Mamaos, dan Maenpo. Ngaos adalah tradisi mengaji yang mewarnai suasana dan nuansa Cianjur sehingga mendapat julukan kota santri. Pasalnya sejak lahir sekitar tahun 1677, Cianjur dibangun oleh ulama dan santri yang gencar mengembangkan syiar Islam.

Mamaos memiliki arti seni budaya yang menggambarkan kehalusan budi dan rasa menjadi perekat persaudaraan dan kekeluargaan dalam tata pergaulan hidup. Seni mamaos tembang sunda Tembang Cianjuran lahir dari hasil cipta, rasa dan karsa Bupati Cianjur R. Aria Adipati Kusumahningrat yang dikenal dengan sebutan Dalem Pancaniti periode 1834-1862.

Seni mamaos ini terdiri dari alat kecapi indung (kecapi besar) dan kecapi rincik (kecapi kecil) serta sebuah suling yang mengiringi panembanan atau juru. Pada umumnya syair mamaos ini lebih banyak mengungkapkan puji-pujian akan kebesaran Tuhan dengan segala hasil ciptaan-Nya.

Sedangkan Maenpo adalah seni bela diri pencak silat yang menggambarkan keterampilan dan ketangguhan. Pencipta maenpo ini adalah R. Djadjaperbata atau dikenal dengan nama R.H. Ibrahim. Aliran ini mempunyai ciri permainan rasa yaitu sensitivitas atau kepekaan yang mampu membaca segala gerak lawan ketika anggota badan saling bersentuhan.

Pada seni bela diri maenpo dikenal ilmu Liliwatan (penghindaran) dan Peupeuhan (pukulan). Jikanfilosofi tersebut diresapi, pada hakekatnya merupakan simbol rasa keberagamaan, kebudayaan dan kerja keras. Sasarannya adalah tercipta keimanan dan ketaqwaan masyarakat melalui pembangunan akhlak yang mulia.

(Awaludin)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement