Share

Pentagon: Serangan Drone AS yang Mematikan di Afghanistan Tidak Melanggar Hukum

Susi Susanti, Okezone · Kamis 04 November 2021 06:05 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 04 18 2496400 pentagon-serangan-drone-as-yang-mematikan-di-kabul-tidak-melanggar-hukum-WCzcNfFkpr.jpg Serangan drone AS ke Afghanistan (Foto: BBC)

WASHINGTON - Seorang inspektur Pentagon setelah penyelidikan mengatakan serangan pesawat tak berawak (drone) Amerika Serikat (AS) yang menewaskan 10 warga sipil Afghanistan adalah kesalahan yang tidak melanggar hukum apa pun.

"Itu adalah kesalahan yang jujur," kata Inspektur Angkatan Udara AS Letnan Jenderal Sami Said kepada wartawan.

Letnan Jenderal Said mengatakan telah terjadi "kesalahan eksekusi, dikombinasikan dengan bias konfirmasi dan gangguan komunikasi" yang menyebabkan "korban sipil yang disesalkan".

Namun dia mengatakan penyelidikan menemukan "tidak ada pelanggaran hukum, termasuk Hukum Perang".

"Ini bukan tindakan kriminal, tindakan acak, kelalaian," tambahnya.

 Baca juga: AS Akui Serangan Drone Tewaskan 10 Warga Sipil

Dia mengatakan personel AS yang melakukan serangan pesawat tak berawak benar-benar percaya bahwa mereka menargetkan "ancaman segera" dari kelompok Negara Islam (IS) kepada pasukan AS dan staf diplomatik di bandara Kabul.

Itu terjadi beberapa hari setelah IS-K, cabang kelompok itu di Afghanistan, mengatakan mereka berada di balik serangan bom dahsyat di luar bandara Kabul, tempat ribuan warga Afghanistan berkumpul untuk mencoba melarikan diri dari negara itu, menewaskan sedikitnya 170 orang termasuk 13 personel militer AS.

Militer AS mengatakan memiliki intelijen bahwa ISIS sedang merencanakan serangan kedua terhadap operasi evakuasi.

 Baca juga: Kepala Pentagon Minta Maaf Atas Serangan Drone di Afghanistan

"Yang mungkin rusak bukanlah intelijen tetapi korelasi intelijen itu dengan rumah tertentu," ujarnya.

Intelijen telah melibatkan mobil Toyota Corolla putih yang diduga mengandung bahan peledak. Tetapi Letnan Jenderal Said mengatakan bahwa AS kemudian melacak mobil yang salah.

"Kami hanya tidak memilih Toyota Corolla yang kami yakini seharusnya kami pilih,” ungkapnya.

Mereka yang terlibat dalam serangan pesawat tak berawak percaya rumah itu kosong dan gagal melihat seorang anak memasuki area target dua menit sebelum roket ditembakkan.

Militer AS juga percaya bahwa pengebom bandara sebelumnya telah membawa bahan peledak di dalam tas komputer, jadi ketika operator yang merencanakan serangan melihat orang-orang yang mereka awasi memegang tas komputer, mereka yakin mereka memiliki target yang tepat, sebuah contoh "bias konfirmasi".

"Ternyata, dan kami tegaskan, itu adalah tas komputer" dan bukan bahan peledak,” jelasnya.

Serangan pada 29 Agustus menewaskan tiga orang dewasa, termasuk seorang pria yang bekerja untuk kelompok bantuan AS, dan tujuh anak-anak.

Serangan ini terjadi ketika negara-negara Barat berusaha untuk mengevakuasi warga Afghanistan setelah Taliban menguasai negara itu.

Anak termuda yang dibunuh adalah Sumaya yang berusia dua tahun, dan Farzad yang berusia 12 tahun.

Ramin Yousufi, seorang kerabat dari keluarga korban, mengatakan itu adalah "serangan brutal" berdasarkan "informasi yang salah".

"Mengapa mereka membunuh keluarga kami? Anak-anak kami? Mereka begitu terbakar sehingga kami tidak dapat mengidentifikasi tubuh mereka, wajah mereka," terangnya.

Sebelumnya, setelah penyelidikan awal, Pentagon mengakui pada September lalu bahwa serangan itu merupakan "kesalahan tragis" dan mengatakan akan memberikan kompensasi kepada anggota keluarga yang selamat.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini