Share

Bocah 10 Tahun Gantung Diri Usai di-Bully karena Autis

Susi Susanti, Okezone · Rabu 10 November 2021 17:56 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 10 18 2499783 bocah-10-tahun-gantung-diri-usai-di-bully-karena-autis-nONYQzSogT.jpg Bocah 10 tahun gantung diri karena di-bully (Foto: Gregory Tichenor)

INGGRIS - Seorang siswi diketahui bunuh diri dengan cara menggantung diri karena merasa di-bully selama berbulan-bulan. Siswi ini dilaporkan memiliki penyakit autisme.

Isabella Faith Tichenor, 10, ditemukan tewas oleh ibunya Brittany Tichenor-Cox minggu lalu setelah memberi tahu ibunya bahwa dia mencintainya.

Isabella yang kerap dipanggil Izzy telah memberi tahu keluarganya bahwa dia diintimidasi di Sekolah Dasar Foxboro di Utah. Namun mereka mengatakan mereka diabaikan setelah menyampaikan kekhawatiran kepada para guru.

"Putri saya pergi ke guru dan dia pergi ke kepala sekolah dan tidak ada yang dilakukan,” terang kakek Izzy, Gregory Tichenor kepada The Sun.

Baca juga:Β Sebelum Tewas Gantung Diri, Ibu Korban Pinjol di Cinere Sempat Pinjam Rp12 Juta ke SaudaranyaΒ 

"Ini telah berlangsung selama berbulan-bulan dan tidak ada yang dilakukan,” lanjutnya.

"Itu baik verbal dan fisik,” ujarnya.

"Izzy adalah anak yang cantik. Dia menikmati taman bermain dan berkumpul dengan keluarga. Dia dekat dengan lima saudara kandungnya,” ujarnya.

Β Baca juga:Β Diduga Depresi Tak Lulus Ujian P3K, Guru Honorer Pilih Gantung Diri

"Dia telah memberi tahu ibunya bahwa dia mencintainya dan dia mencintai Tuhan dan itulah terakhir kali mereka berbicara. Kemudian dia ditemukan,” jelasnya.

Baca Juga: Peringati Hari Lahir Pancasila, Pengawas KKP Lakukan Upacara Bawah Laut

Gregory mengatakan sekolah itu "dikenal" mengabaikan intimidasi dan klaim rasisme. Dia mengatakan tuduhan bahwa Izzy disebut n-word bahkan diabaikan.

"Kami pikir ini bermotivasi rasial. Inilah yang mereka lakukan. Ini adalah riasan mereka tetapi perlu diubah,” terangnya.

"Kami ingin meningkatkan kesadaran tentang masalah ini. Anda tahu, saya diintimidasi [tapi itu menjadi lebih baik]. Beberapa anak tidak keluar dari itu," tambahnya.

"Kita perlu berbicara dengan anak-anak kita,” ujarnya.

"Hidup ini singkat, kita harus memanfaatkannya sebaik mungkin,” tambahnya.

"Seperti orang tua mana pun, kami melaporkan pelecehan ini kepada gurunya, administrasi sekolah, dan administrasi distrik,” terang ibu Izzy, Brittany, kepada KUTV.

"Tidak ada. Tidak ada yang dilakukan untuk melindungi Izzy. Perilaku anak-anak tidak diperbaiki sehingga siksaan terhadap anak ini berlanjut hari demi hari,” lanjutnya.

"Aku tidak tahu dia berpikir seperti itu,” tambahnya.

Sementara itu, Distrik Sekolah Davis mengatakan kepada outlet lokal bahwa mereka menanggapi semua insiden dan laporan intimidasi dengan serius.

"Foxboro Elementary telah bekerja secara ekstensif dengan keluarga dan akan terus memberikan bantuan kepada mereka dan orang lain yang terkena dampak tragedi ini,” terang pihak sekolah.

β€œSaat ini, kejadian itu kami ketahui melibatkan siswa lain. Guru dan administrasi merespons dengan cepat dan tepat,” lanjutnya.

"Seperti semua tuduhan intimidasi, penyelidikan kami akan berlanjut," tambah mereka.

Kejadian ini mendapat pengawasan setelah sebuah laporan menemukan jika pihak sekolah "sengaja acuh tak acuh" terhadap pelecehan rasial.

"Kami menemukan bahwa distrik itu sengaja tidak peduli dengan iklim permusuhan rasial di banyak sekolahnya,” ungkap laporan Departemen Kehakima.

Donasi pun dikumpulkan GoFundMe untuk memberikan Izzy perayaan hidup yang paling indah. Uang yang terkumpul telah mencapai lebih dari USD34.000 (Rp484 juta) pada Selasa (9/11) sore.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini