Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Rentetan Tembakan Senapan Mesin Musuh Tak Membuat Pejuang Ini Meregang Nyawa

Fahmi Firdaus , Jurnalis-Rabu, 10 November 2021 |06:05 WIB
Rentetan Tembakan Senapan Mesin Musuh Tak Membuat Pejuang Ini Meregang Nyawa
Komandan Pasukan Setan Kolonel Sentot/ repro
A
A
A

PEJUANG Indonesia dikenal sebagai pasukan yang tangguh di medan perang, meskipun dalam kondisi yang serba terbatas. Sejarah juga mencatat berbagai kisah heroik para pejuang di berbagai palagan dalam merebut maupun mempertahankan kemerdekaan. Seperti peristiwa 10 November 1945, saat arek Suroboyo bertempur dengan Inggris.

(Baca juga: Kisah Heroik Bung Tomo dan Kolonel Sungkono, Motor Gelombang Gerakan 10 November)

Salah satu pejuang kemerdekaan yang mempunyai kisah unik adalah Kolonel Sentot. Sebagai salah satu perwira Divisi Siliwangi (Batalyon A) asal Indramayu, sosok MA Sentot dikenang sebagai komandan yang sangat dihormati anak buahnya.

“Kalem Pak Sentot mah orangnya. Tapi kalau sudah jengkel sama orang atau anak buah, dihantam pasti tumbang. Orangnya enggak galak, tapi tegasnya begitu,” ujar salah satu anak buah MA Sentot, Prada (Purn) Kaswinah, saat ditemui Okezone, beberapa waktu lalu.

(Baca juga: Surat Cinta Bung Tomo, "Jeng Lies Aku Cinta Padamu, Aku Rindu Padamu")

Kaswinah mengaku sudah ikut MA Sentot di Pemuda Pelopor sejak usia sekitar 18 tahun. Tokoh LVRI Kabupaten Indramayu itu juga terus ikut pemimpin “Pasukan Setan” Batalyon A Divisi IV (kini Kodam III) Siliwangi hingga diberhentikan pada 1949.

Dia mengisahkan salah satu palagan pertempuran saat Pasukan Setan menghantam Belanda di Jembatan Bankir, Lohbener, Indramayu, medio November 1947.

“Setelah penyerangan di Jembatan Bankir itu, Belanda nyari-nyari kita sampai dekat markas di dekat pantai. Tiga hari tiga malam pesawat-pesawat Belanda terbang di atas kita. Pas tentara Belanda patroli ke hutan, kita disuruh Pak Sentot keluar ke laut dengan perahu nyamar jadi nelayan,” bebernya.

“Selang berapa bulan, ada perintah untuk hijrah (Siliwangi pindah dari Jawa Barat ke Jawa Tengah dan Yogyakarta akibat Perjanjian Renville 17 Januari 1948). Pasukan dan Pak Sentot ikut hijrah, tapi akhirnya saya disuruh pulang,” lanjutnya.

Dia diperintahkan untuk tidak ikut pindah oleh MA Sentot yang pensiun berpangkat kolonel tersebut. Dia pun menuruti perintahnya dan akhirnya tetap tinggal bersama 5 rekan lainnya di Indramayu. Bukan karena ada tugas khusus, melainkan untuk keselamatan keluarganya.

“Sudah dari kecil kenal Pak Sentot, termasuk keluarga saya karena memang dulu rumah kita dekat, tetanggaan lah. Pas ada perintah hijrah, saya dan teman-teman dari Subang sudah sampai Kuningan, disusul anak buah Pak Sentot lainnya, disuruh pulang jangan ikut hijrah,” bebernya.

“Disuruh Pak Sentot, disuruh nemenin bapak saya. Bapak saya kan kepala desa. Katanya kalau Belanda masuk, nanti para kepala desa bakal dituduh pro-Belanda, takut dibunuh sama teman-teman (pejuang) sendiri. Akhirnya saya pulang berenam yang asli Indramayu juga,” sambungnya.

Namun pada 1949, Kaswinah ‘reunian’ lagi dengan MA Sentot dan teman-temannya pasca-long march. Siliwangi kembali ke Jawa Barat setelah Belanda melancarkan Agresi II 19 Desember 1948. “Tahun 1949 itu Pak Sentot balik lagi long march ke Indramayu. Kita konsolidasi lagi, tapi lawannya bukan lagi ketemu Belanda, tapi juga DI (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia),” kata Kaswinah.

Dalam pertempuran dengan gerombolan DI, Kaswinah melihat dengan mata kepala sendiri, bahwa komandan legendarisnya itu ternyata kebal peluru. Tidak hanya kebal ditembak jarak jauh, tapi juga jarak dekat. Kalau perang, Pak Sentot di tengah-tengah. Kasih arahan maju (sisi) kanan, maju (sisi) kiri udah kayak main (sepak)bola aja. Kalau (MA Sentot) kena tembak enggak apa-apa. Kalau diberondong (senapan mesin ringan) Bren, malah pada jatuh pelurunya,” kenang Kaswinah.

“Sementara kita anak buah yang lain tiarap, dia mah berdiri terus. Perintah maju sini, maju sana, kayak orang ngangon bebek. Boro-boro ditembak dari jauh, ditembak dekat dari jendela pakai Bren sama DI aja enggak apa-apa. Pelurunya pada ngampar di bawah dan cuma diketawain aja sama Pak Sentot,” tuturnya.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement