Ancaman Serangan Israel ke Fasilitas Nuklir Iran Meningkat

Agregasi BBC Indonesia, · Selasa 23 November 2021 17:15 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 23 18 2506275 ancaman-serangan-israel-ke-fasilitas-nuklir-iran-meningkat-6HNi3OPpH6.jpg Foto: Reuters.

LONDON - Di tengah birunya perairan Laut Merah, pasukan Angkatan Laut Israel, Uni Emirat Arab, dan Bahrain menggelar latihan operasi keamanan gabungan bersama sebuah kapal perang Amerika Serikat, beberapa hari lalu. Latihan semacam ini adalah yang pertama kali dilakukan antara militer negara-negara tersebut.

Sebulan sebelumnya, ada pula skenario perang yang digelar di sebuah pangkalan udara sebelah utara Kota Eilat di Israel. Dalam latihan itu, berbagai pesawat tempur Israel dan tujuh negara lainnya melesat ke angkasa.

BACA JUGA: PM Israel Desak Negara Adidaya Tak Berhubungan dengan Rezim Iran

Rangkaian latihan itu menekankan aliansi strategis antara Israel dan sejumlah negara Arab sekaligus mengirim pesan kuat kepada Iran, yang baru-baru ini juga menggelar latihan militer besar-besaran.

Pelaksanaan rangkaian latihan tersebut berlangsung tatkala banyak kalangan di Israel mengkhawatirkan apakah negara kecil itu bakal terdorong untuk menyerang fasilitas nuklir Iran sendirian.

Pemerintah Israel telah mengalokasikan USD1,5 miliar (Rp21,3 triliun) dalam menyiapkan militer untuk potensi serangan ke fasilitas-fasilitas nuklir Iran. Apalagi hampir setiap hari para elite politik dan militer Israel mengucapkan peringatan terhadap Iran.

BBC meminta pendapat para analis dan pemerhati Iran mengenai apa saja kemungkinan yang bakal terjadi.

"Israel tidak punya niat untuk berperang dengan Iran, tapi kami tidak akan membiarkan Iran memperoleh senjata nuklir," kata seorang petinggi keamanan Israel kepada saya.

"Di tengah kemajuan Iran dalam program nuklir mereka, kami menyiapkan semua opsi dan skenario, termasuk kemampuan militer," sambungnya.

Pernyataan itu mengemuka manakala pembicaraan antara Iran dan lima negara (plus Amerika Serikat secara tidak langsung) mengenai kesepakatan nuklir 2015—atau dikenal dengan sebutan Gabungan Rencana Aksi Komprehensif (JCPOA)—bakal dimulai di Wina, Austria, pada 29 November mendatang.

JCPOA membatasi aktivitas nuklir Iran sekaligus membuka fasilitas nuklir mereka untuk diperiksa secara mendalam. Sebagai gantinya, sebagian sanksi internasional Iran dicabut.

BACA JUGA: Ahli Nuklir Iran Mohsen Fakhrizadeh Tewas Dibunuh, Begini Kronologinya

Akan tetapi, JCPOA ditinggalkan oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada 2018 dengan persetujuan Israel.

Menjelang pertemuan untuk kembali menerapkan JCPOA, Iran mengumumkan bahwa mereka telah memproduksi 25kg uranium yang diperkaya hingga mencapai 60% kemurnian—tepat berada di bawah taraf yang diperlukan untuk membuat bom nuklir. Selain itu, Iran memproduksi 210kg uranium yang diperkaya hingga mencapai 20% kemurnian.

Walau pemerintah Iran berkeras bahwa pengayaan uranium bersifat damai dan tujuannya adalah untuk kepentingan sipil, berbagai pakar Iran menggarisbawahi uranium sebanyak itu hanya diproduksi negara dengan senjata nuklir.

"Dibandingkan dengan masa lalu, Iran kini semakin dekat dalam menciptakan materi fisil untuk senjata nuklir. Fakta ini punya dampak keamanan serius terhadap negara Israel," ujar seorang pejabat keamanan Israel.

Pihak keamanan Israel memperkirakan, jika Iran memutuskan memiliki senjata nuklir, Iran dapat mengakumulasi uranium yang diperkaya untuk sebuah senjata nuklir dalam kurun waktu satu bulan.

Jika senjata nuklir hendak dibuat, hulu ledaknya harus ditempatkan pada sebuah rudal balistik. Masa pengerjaannya sulit diprediksi, namun beberapa pakar mengatakan proses tersebut memerlukan 18-24 bulan.

Pemerintah Israel, yang diasumsikan punya senjata nuklir tapi sengaja menerapkan kebijakan ambigu mengenai keberadaan senjata tersebut, memandang program nuklir Iran sebagai ancaman terhadap keberadaan negara Israel. Pasalnya, Iran tidak mengakui negara Israel dan para pejabat Iran kerap mengatakan bahwa Israel akan punah.

Adapun AS dan negara-negara Teluk, belum jelas sejauh mana kepentingan mereka untuk membantu Israel jika ada konfrontasi militer dengan Iran walau mereka punya relasi dengan Israel dan menentang kemungkinan Iran memiliki senjata nuklir.

Waktu terus bergulir

Yaakov Amidror, mantan Penasihat Keamanan Nasional Israel yang kini menjadi peneliti senior lembaga kajian Institut Strategi dan Keamanan di Yerusalem, adalah sosok pertama yang memperingatkan bahaya ambisi nuklir Iran pada awal 1990-an saat dia masih bekerja untuk intelijen militer Israel.

Penilaiannya cukup kelam terkait perkembangan baru-baru ini.

"Israel tidak bisa hidup dalam situasi di mana Iran semakin dekat (memiliki) bom, dan dalam waktu dekat harus membuat keputusan bagaimana menghentikannya," tegas Amidror.

"Saya tidak melihat cara lain kecuali mengebomnya, karena saya tidak melihat Iran mundur dari mimpi memiliki payung nuklir sehingga mereka bisa lebih agresif dari sikap mereka saat ini," imbuhnya.

Israel sudah dua kali bertindak sendirian dalam menghancurkan reaktor nuklir negara musuh—pertama di Irak pada 1981 dan di Suriah pada 2007.

Meski demikian, banyak analis mempertanyakan apakah Israel mampu melaksanakan operasi yang sedemikian kompleks guna menghentikan program nuklir Iran yang jauh lebih maju dan melibatkan berbagai fasilitas (termasuk fasilitas bawah tanah). Selain itu, apakah Israel juga sanggup menanggung konsekuensinya.

"Semua orang di Israel paham bahwa [sebuah serangan] bisa menuntun ke sebuah perang yang sangat rumit," kata Amidror.

Iran, di lain pihak, sudah membulatkan tekad untuk menggelar "respons yang mengejutkan" jika diserang. Diasumsikan, Iran akan menggunakan kekuatannya sekaligus berkoordinasi dengan beragam kelompok proxy di wilayah Timur Tengah: Hezbollah di Lebanon yang punya puluhan ribu roket, milisi Syiah di Suriah dan Irak, gerakan pemberontak Houthi di Yaman, serta milisi Jihad Islam di Jalur Gaza.

Dihadapkan pada risiko besar, beberapa sosok pro-serangan ke Iran menilai gempuran akan berfaedah walau hanya memundurkan rencana nuklir Iran beberapa tahun ke belakang.

Bagaimanapun, secara resmi pemerintah Israel masih mengusung solusi damai melalui negosiasi.

"Saya harap saluran diplomatik akan berhasil," ujar Sima Shine, mantan kepala riset badan intelijen Mossad. "Namun saat ini saya tidak memberinya peluang yang tinggi."

Pemerintahan Presiden AS Joe Biden telah mengusulkan agar Iran dan pihak-pihak terkait langsung "sama-sama mematuhi" JCPOA, namun pemerintah Israel menentangnya.

Kesepakatan itu mencabut banyak hambatan banyak hambatan pada program nuklir Iran hingga 2025 dan tidak membatasi pengembangan rudal balistik Iran atau menghambat kelompok-kelompok milisi di Timur Tengah.

"Evaluasi saya pada posisi Iran adalah negara itu sebenarnya tidak mau mundur," kata Shine, yang kini mengepalai program kajian Iran di lembaga Institut Kajian Keamanan Nasional Israel.

"Yang mereka inginkan, tentunya, pengurangan sanksi-sanksi dan mereka paham bahwa mereka harus membayar sesuatu untuk mendapatkannya. Pertanyaannya, apakah perhitungan Iran—sejauh apa perekonomian mereka perlu bantuan?"

Shine mengkhawatirkan perundingan soal nuklir hanyalah cara bagi Iran untuk mengulur waktu, mengingat Iran masih mempertahankan mesin-mesin sentrifugal untuk terus berputar dan menumpuk cadangan uranium yang diperkaya.

Aksi-aksi rahasia

Alex Vatanka, peneliti veteran khusus Iran dari Institut Timur Tengah di Washington, menekankan komitmen ideologi Iran yang mendalam pada program nuklir mereka.

Dia meyakini Iran tidak ingin kembali ke JCPOA untuk meringankan beban ekonomi; dia justru melihat rangkaian tindakan dan tuntutan Iran sebagai sikap yang "memperkuat diri".

Vatanka menilai Iran sejatinya tidak menghendaki senjata nuklir.

"Jelas, (senjata nuklir) adalah opsi yang mereka ingin miliki, tapi ini bukan soal mempersenjatai," ujarnya.

"Ini soal Iran menjadi negara nuklir yang penting dan menekankan poin kepada Amerika bahwa perubahan rezim tidak akan terjadi," sambungnya.

Vatanka tidak yakin Israel akan melancarkan serangan terbuka ke Iran. Menurutnya, aksi-aksi rahasia Israel bisa jauh lebih efektif dalam menahan kemajuan program nuklir Iran.

"Mereka (Israel) telah membuktikan bahwa mereka bisa melakukannya. Iran jelas telah disusupi pada level tinggi. Jelas ada aliran informasi yang mereka (Israel) punya."

Satu dekade lalu, ada berbagai laporan mengenai serangan AS-Israel secara terkoordinir terhadap program nuklir Iran menggunakan vírus komputer Stuxnet.

Baru-baru ini, Iran menyalahkan Israel atas pembunuhan dramatis terhadap ilmuwan nuklirnya, Mohsen Fakhrizadeh. Ilmuwan top itu ditembak hingga tewas dekat Teheran memakai senjata mesin yang bisa dikontrol dari jarak jauh. Serangan itu juga menyebabkan ledakan di beberaa fasilitas nuklir Iran.

Sebagai bagian dari yang diistilahkan "perang di antara perang-perang", Israel juga telah menjalankan ratusan serangan milter untuk menghambat pengaruh Iran di Suriah dan aliran pasokan amunisi ke Hezbollah.

Kekhawatiran nuklir

Meski ada ragam pendapat dari para pakar mengenai kemungkinan di masa mendatang, tercapai konsensus bahwa perundingan soal program nuklir Iran berlangsung pada waktu yang kritis dan pertaruhannya terhadap kawasan Timur Tengah nan bergejolak amat tinggi.

Jika Iran memiliki persenjataan nuklir, negara-negara lain seperti Arab Saudi, Turki, dan Mesir kemungkinan akan mengikuti jejak Iran.

Washington telah menekankan niatnya untuk mengakhiri "perang abadi" di Timur Tengah. Namun, Washington juga memperingatkan akan mencari "opsi-opsi lain" bila menyangkut Iran. Itu sebabnya AS memperlihatkan kemampuan militernya melalui latihan perang bersama Israel.

Sebagai contoh, pada akhir latihan tempur bersama Israel baru-baru ini, sebuah pesawat tempur AS yang mampu mengangkut bom penghancur bunker dan fasilitas nuklir bawah tanah dikawal dua pesawat tempur Israel di wilayah udara Israel.

Paradoksnya, persiapan aksi militer terhadap Iran adalah cara terbaik agar serangan terbuka ke Iran tidak terjadi.

1
7

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini