PM Israel Desak Negara Adidaya Tak Berhubungan dengan Rezim Iran

Agregasi VOA, · Jum'at 25 Juni 2021 21:01 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 25 18 2431052 m-israel-desak-negara-adidaya-tak-berhubungan-dengan-rezim-iran-6T6jXXB0vk.jpg Perdana Menteri israel Naftali Bennett. (Foto: Reuters)

TEL AVIV - Perdana Menteri Israel Naftali Bennett pada Kamis (24/6/2021) mengatakan ia “akan lebih suka jika dunia memahami” bahwa negara-negara adidaya “jangan berhubungan” dengan rezim Iran.

Berbicara dalam sebuah upacara kelulusan untuk pilot Angkatan Udara Israel yang baru, Bennett menggambarkan kepemimpinan Iran sebagai “rezim yang kejam dan fanatik, yang telah memilih seorang algojo dari Teheran sebagai presiden.”

BACA JUGA: Ebrahim Raisi Terpilih Jadi Presiden, Israel Rencanakan Serangan ke Iran

Ditambahkannya, dialog dengan “teman-teman” berlanjut karena “rasa saling menghormati yang mendalam,” tetapi “pada akhirnya nasib kita ada di tangan kita sendiri.”

Bennet pada Minggu lalu (20/6/2021) juga mengecam presiden Iran yang baru terpilih dan menyerukan kepada negara-negara adidaya untuk “membuka mata” akan bahaya menghidupkan kembali perjanjian nuklir Iran.

Kepala pengadilan yang berasal dari kelompok garis keras, Ebrahim Raisi, pada Sabtu (19/6/2021) terpilih dengan meraih 62% suara di tengah rendahnya jumlah pemilih. Sebelumnya Amerika telah menjatuhkan sanksi terhadap Raisi, sebagian atas keterlibatannya dalam eksekusi massal ribuan tahanan politik pada tahun 1988 atau pada akhir Perang Iran-Irak. Raisi belum mengomentari secara khusus pernyataan Bennett dalam acara itu.

BACA JUGA: Pidato Pertama di Parlemen, PM Israel Naftali Bennett Dihujani Cemoohan

Selama beberapa minggu terakhir ini diplomat-diplomat Iran dan Amerika merundingkan kembali kesepakatan untuk menghidupan kembali perjanjian nuklir di Wina, melalui mediasi Eropa. Pembicaraan dilanjutkan pada Minggu (20/6/2021) lalu, putaran pertama sejak pemilu presiden Iran yang membuat kelompok garis keras Iran menguasai kendali di seluruh pemerintahan.

Israel dengan tegas menentang perjanjian nuklir yang penting itu dan menyambut baik keputusan pemerintahan Donald Trump sebelumnya yang secara sepihak menarik diri dari perjanjian tersebut. Sejak mundurnya Amerika pada tahun 2018 itu dan pemberlakuan kembali sanksi-sanksi ekonomi terhadap negara itu, Iran tidak lagi mematuhi perjanjian soal batasan pengayaan uranium.

Iran saat ini memperkaya uranium pada tingkat tertinggi yang pernah ada, meskipun belum mencapai tingkat pembuatan senjata nuklir.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini