Ebrahim Raisi Terpilih Jadi Presiden, Israel Rencanakan Serangan ke Iran

Rahman Asmardika, Okezone · Selasa 22 Juni 2021 14:39 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 22 18 2429076 ebrahim-raisi-terpilih-jadi-presiden-israel-rencanakan-serangan-ke-iran-cCyoDn1QiN.jpg Presiden Terpilih Iran Ebrahim Raisi. (Foto: Reuters)

TEL AVIV - Kemenangan Ebrahim Raisi dalam pemilihan presiden Iran membuat Israel “tidak punya pilihan” selain menyerang program nuklir Iran, demikian dilaporkan saluran televisi Channel 12 mengutip sumber pejabat senior pemerintahan Negara Zionis itu.

"(Serangan itu) akan membutuhkan anggaran dan realokasi sumber daya," kata sumber itu kepada Channel 12, menambahkan bahwa pejabat keamanan Israel percaya Raisi akan mengadopsi pandangan garis keras tentang kebijakan luar negeri dan nuklir yang didorong oleh Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.

BACA JUGA: Ebrahim Raisi Menangi Pilpres Iran

Sebelumnya, Israel mengatakan masyarakat internasional harus memiliki keprihatinan serius tentang Ebrahim Raisi menjadi presiden Iran. Beberapa pejabat tinggi Israel telah mengkritik keras sang presiden terpilih, dengan Menteri Luar Negeri negara itu Yair Lapid menggambarkan Raisi sebagai "ekstremis yang bertanggung jawab atas kematian ribuan orang Iran".

"Pemilihannya harus mendorong tekad baru untuk segera menghentikan program nuklir Iran dan mengakhiri ambisi regionalnya yang merusak," kata Lapid dalam sebuah pernyataan di Twitter sebagaimana dilansir Sputnik.

BACA JUGA: Siapakah Ebrahim Raisi, Tokoh Garis Keras yang Akan Menjadi Presiden Baru Iran

Hubungan Israel dan Iran tegang sejak Revolusi Islam 1979 di Teheran. Pada saat itu, Pemimpin Tertinggi Ayatollah Khomeini mengambil sikap anti-Israel yang tajam dan memutuskan semua hubungan dengan tetangganya. Selama bertahun-tahun, kedua belah pihak telah terlibat dalam aksi balas dendam, tetapi menghindari konflik militer langsung.

Hubungan antara kedua belah pihak semakin memburuk karena program nuklir Iran, yang dianggap 

Israel sebagai ancaman besar. Pada 2015, Iran, Inggris, China, Prancis, Jerman, Rusia, dan Amerika Serikat (AS) menandatangani Rencana Aksi Komprehensif Bersama (Joint Comprehensive Plan of Action/JCPOA), umumnya dikenal sebagai kesepakatan nuklir Iran. Berdasarkan perjanjian tersebut, Republik Islam menghentikan program nuklirnya dengan imbalan pencabutan sanksi ekonomi dan embargo senjata.

Israel mengkritik kesepakatan itu, mengatakan bahwa JCPOA tidak menghentikan program nuklir Iran.

Pada 2018 Presiden AS Donald Trump menarik Washington keluar dari JCPOA dan memberlakukan kembali sanksi terhadap Teheran. Sebagai tanggapan Iran mulai melanggar kesepakatan dalam JCPOA dan kembali melakukan pengayaan uranium.

Presiden terpilih Iran Ebrahim Raisi mengatakan akan mendukung negosiasi untuk menghidupkan kembali kesepakatan itu. Iran telah lama menegaskan bahwa program nuklirnya adalah untuk tujuan damai.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini