Share

Kisah Desa Jangglengan, Dulunya Hutan Jati Tempat Bertapa Raja Solo

Agregasi Solopos, · Sabtu 27 November 2021 14:34 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 27 340 2508339 kisah-desa-jangglengan-dulunya-hutan-jati-tempat-bertapa-raja-solo-VnZJ1jaHeW.jpg Desa Jangglengan (Foto: Solopos)

SUKOHARJO - Desa Jangglengan, sebuah desa di Kecamatan Nguter, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah dulunya merupakan hutan jati. Di sana, dibangun sebuah pesanggrahan yang menjadi tempat Raja Keraton Solo bertapa dan meditasi.

Di wilayah tersebut tumbuh ribuan pohon jati yang mayoritas berukuran besar. Bahkan, nama Jangglengan bermakna buah jati.

Baca Juga:  Sifat Buruk Gajah Mada, Nyatanya Tak Setiakawan

Keraton Solo di bawah kepimpinan Paku Buwono IX mendapatkan wangsit untuk membangun pesanggrahan di sekitar Bengawan Solo. Kemudian, diutuslah kerabat keraton untuk mencari daerah yang cocok untuk membangun pesanggrahan.

"Utusan PB IX menyusuri Bengawan Solo untuk mencari lokasi tersebut. Mereka berjalan kaki selama berhari-hari," kata seorang sesepuh Desa Jangglengan, Sumito seperti dikutip Solopos.com Sabtu (27/11/2021).

Hingga akhirnya, utusan kerabat keraton itu sampai ke sebuah hutan jati yang lokasinya tak jauh dari Bengawan Solo. Lokasi itu dianggap paling cocok dibangun pesanggrahan.

Bermodal batang kayu jati, mereka pun membangun pesanggrahan. Selang beberapa hari, Paku Buwono IX menyambangi lokasi tersebut untuk bertapa atau meditasi beberapa hari.

Baca Juga: Benny Moerdani, Jenderal Intel Perintis Jalan Politik Soeharto!

Raja Keraton Solo itu duduk di gundukan tanah yang dikelilingi pohon-pohon jati. "Lokasi pesanggrahan PB IX terletak di tengah hutan jati. Beliau melakukan semadi untuk mencari ilham, tuturnya.

Baca Juga: KKP Pastikan Proses Hukum Pelaku Perdagangan Sirip Hiu Ilegal di Sulawesi Tenggara

Selama memimpin Keratin Solo lebih dari 30 tahun, Paku Buwono IX kerap mengunjungi pesanggrahan tersebut. Bahkan, lokasi pesanggrahan itu merupakan tempat keramat di hutan jati dan hanya Raja Keraton Solo dan kerabat keraton yang kerap mengunjungi pesanggrahan tersebut.

Seiring berjalannya waktu, masyarakat tertarik untuk membangun rumah di sekitar hutan jati. Mereka juga membangun rumah dengan menggunakan batang pohon jati.

"Sekarang masih ada pohon jati yang berukuran besar walaupun jumlahnya sedikit. Hutan jati berubah menjadi permukiman penduduk," katanya.

Sementara itu, Kepala Desa Jangglengan, Sutoyo menuturkan, hampir di setiap warga memiliki pohon jati di pekarangan rumahnya. Dia mengklaim, pohon jati yang tumbuh di desanya berkualitas dan bernilai ekonomi tinggi.

Wilayah selatan Desa Jangglengan berbatasan langsung dengan Bengawan Solo. Sementara wilayah utara, barat, dan timur berbatasan dengan Desa Pengkol, Desa Serut, dan Desa Tanjung Rejo.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini