Share

Ratusan Orang Rela Hidup di 'Peti Mati' Seharga Rp3,7 Juta Usai Harga Sewa Rumah Melonjak Tajam

Vanessa Nathania, Okezone · Selasa 07 Desember 2021 16:23 WIB
https: img.okezone.com content 2021 12 07 18 2513375 ratusan-orang-rela-hidup-di-peti-mati-seharga-rp3-7-juta-usai-harga-sewa-rumah-melonjak-tajam-sww3ZwuKEe.jpg Ratusan orang rela hidup di 'bilik peti mati' karena harga sewa meroket (Foto: Benny Lam: Society for Community Organisation/SoCo)

HONG KONG - 'Dikubur hidup-hidup' adalah ketakutan irasional yang dimiliki banyak orang. Tetapi bagi ribuan orang di Hong Kong, hal ini hampir menjadi kenyataan karena mereka hidup berdesakan dalam "bilik peti mati" berukuran 25 kaki persegi (2,3 meter persegi).

Dengan kondisi populasi hampir 7,5 juta dan harga rumah yang meroket, banyak masyarakat Hongkong yang akhirnya terpaksa hidup seperti ayam di ruang kecil yang tidak terbayangkan - tersembunyi di bawah bayang-bayang cakrawala kota yang terang.

Ruang kecil seperti peti mati ini dibuat secara ilegal oleh pemiliknya yang akan membagi sebuah flat dengan luas 400 kaki persegi (37 meter persegi) menjadi sekitar 20 gubuk liar. Flat sempit ini semakin membuat kondisi kehidupan terasa ‘mencekik’ karena dapur dan toilet berada dalam satu ruangan.

Saking kecilnya, beberapa “bilik peti mati" ini ada yang berukuran 15 kaki persegi (1,4 meter persegi).

Baca juga: 40 Tahun Beroperasi, Amnesty International Akan Tutup Kantor di Hong Kong karena Terjegal UU Baru

Meskipun sebagian besar besar flat terlalu kecil karena kita sulit berdiri, namun penduduk setempat yang putus asa akan membayar lebih dari 2.000 dolar Hong kong (Rp3,7 juta) per bulan untuk sewa.

Lebih dari 200.000 orang, termasuk puluhan ribu anak-anak, harus hidup dalam kondisi yang tidak manusiawi ini, karena mereka tidak mampu membayar harga sewa yang melonjak.

Fotografer Benny Lam mendokumentasikan hal ini dalam seri berjudul ‘Trapped’.

Baca juga: Hong Kong Salahkan Taiwan Blokir Ekstradisi Tersangka Pembunuhan

Setelah mengunjungi lebih dari 100 sub-flat, dia menceritakan bagaimana semua aktivitas mulai dari memasak hingga tidur berlangsung di ruang seperti peti mati ini.

Baca Juga: Saatnya Anak Muda Bangkit Bersama untuk Indonesia Bersama Astra

Foto-fotonya memperlihatkan kenyataan dari rumah-rumah kotak yang terlalu tertutup ini, karena orang-orang hanya dapat berbaring lurus, beberapa dengan TV kecil di kaki mereka.

Barang-barang terlihat berserakan di ruang mana pun yang memungkinkan. Banyak dari mereka harus tidur bersama dengan barang-barang penting di tempat tidur.

Dengan ruang yang hampir tidak cukup untuk tidur itu, dapur dan toilet pun dijadikan satu. Melalui foto itu terlihat makanan sedang disiapkan hanya beberapa inci dari toilet.

"Anda mungkin bertanya-tanya mengapa kita harus peduli, karena orang-orang ini bukan bagian dari hidup kita," tulis Lam di Facebook.

“Mereka adalah orang-orang yang datang ke dalam hidup Anda setiap hari: mereka melayani Anda sebagai pelayan di restoran tempat Anda makan, mereka adalah penjaga keamanan di pusat perbelanjaan yang Anda kunjungi, atau petugas kebersihan dan pengantar barang jalan-jalan yang Anda lewati,” lanjutnya.

"Satu-satunya perbedaan antara kami dan mereka adalah (rumah mereka). Ini adalah pertanyaan tentang martabat manusia,” tambahnya.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini