Share

2 Dampak Perubahan Iklim Ekstrem, Air Terjun Berhenti Mengalir hingga Batu Hijau

Tim Litbang MPI, MNC Portal · Selasa 14 Desember 2021 06:05 WIB
https: img.okezone.com content 2021 12 13 18 2516280 2-dampak-perubahan-iklim-ekstrem-air-terjun-berhenti-mengalir-hingga-batu-hijau-qTjJ2cWBUY.jpg Ilustrasi perubahan iklim (Foto: NASA Climate Change)

JAKARTA - Perubahan iklim semakin hari semakin menunjukkan dampaknya ke Bumi dan seisinya. Gas rumah kaca, emisi aerosol, merupakan beberapa faktor terjadinya perubahan iklim. Faktor tersebut menyebabkan perubahan iklim global seperti suhu air laut yang meningkat, es di kutub meleleh, hingga cuaca ekstrem. Berikut dampak perubahan iklim yang terjadi saat ini diolah dari berbagai sumber:

1. Air Terjun Victoria Berhenti Mengalir

Salah satu keajaiban alam yang terdapat di dunia adalah air terjun Victoria. Air terjun Victoria mengalir di antara perbatasan Zimbabwe dan Zambia. Air terjun Victoria mencakup 1,7 kilometer pada titik lebarnya, serta ketinggian lebih dari 100 meter. Penduduk setempat menjuluki air terjun ini sebagai “asap yang menggelegar”. Air terjun Victoria merupakan sumber pendapatan bagi Zimbabwe dan Zambia.

Namun sejak 2019, keindahan air terjun ini tak dapat dinikmati lantaran berhenti mengalir. Setelah mengeringnya air terjun Victoria ini, pebisnis lokal pun kehilangan pendapat karena turunnya kedatangan wisatawan ke tempat wisata ini. Mengeringnya air terjun ini juga berdampak pada pasokan listrik yang bergantung pada pembangkit listrik tenaga air.

Baca juga: Perubahan Iklim Sebabkan 'Perceraian' pada Pasangan Elang Laut

Kawasan ini mencatat kekeringan ekstrem yang diprediksi sebagai akibat dari meningkatnya gas rumah kaca akibat ulah manusia. Hal ini mengakibatkan penyimpanan air di kawasan tersebut sulit. Dampak lanjutannya, terjadi musim kemarau yang panjang sehingga merugikan manusia dan lingkungan.

Baca juga: Bertemu Menlu Inggris, Menlu RI Tegaskan Komitmen Indonesia Atasi Permasalahan Iklim 

2. Penemuan Batu Hijau di Antartika

Batu yang berwarna kehijauan serta mempunyai panjang sekitar empat sentimeter ditemukan dari lumpur di laut dalam, jauh dari lepas pantai Antartika Barat. Para ilmuwan mengatakan bahwa batu tersebut seharusnya tidak berada di tempat tersebut. Batu yang disebut dropstone itu terkikis gletser dari Benua Antartika. Kemudian batu tersebut terbawa dalam es yang akhirnya terbuang ke lepas pantai akibat aktivitas gunung es.

Setelah melakukan penelitian dengan teknik sidik jari geologi, diketahui batu itu berasal dari Pegunungan Ellsworth yang merupakan pegunungan tertinggi di Benua Antartika. Namun, Pegunungan Ellsworth berada di bagian terdalam Antartika. Maka menjadi tidak mungkin apabila batu tersebut dapat bertahan di bawah lapisan es kemudian hanyut dalam bentuk balok besar, beku, serta mengambang. Penemuan batu kecil ini menjadi peringatan atas kondisi krisis iklim yang tak tertangani.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini