JAKARTA – Media sebagai alat atau sarana penyalur informasi berperan penting bagi masyarakat dalam memperkuat literasi, termasuk soal mitigasi bencana. Hal ini berkaca dari bencana erupsi Gunung Semeru pada 4 Desember 2021.
Ahli Geologi dan Vulkanologi, Surono mengatakakan, masyarakat telah percaya dan menjadikan media bukan hanya tontonan tetapi juga sebagai tuntunan. Namun, terkadang masih banyak ditemukan kesalahpahaman antara masyarakat dengan media bahkan dengan para ahli.
Menurut Surono, setelah bencana terjadi banyak yang mencari-cari pihak yang bisa disalahkan. Padahal, bukan itu yang harusnya dikejar. “Terus nuduh enggak ada warning. Saking gampangnya kalau sudah terjadi bencana nyari yang salah siapa, kan di Indonesia gitu. Dari dulu sampai sekarang begitu ada bencana, ‘siapa yang harus saya salahkan?’. Tahu saja enggak permasalahannya," ujarnya dalam Special Dialogue Okezone.
Baca juga: BNPB: 46 Meninggal Dunia dan 9.374 Jiwa Mengungsi Akibat Bencana Gunung Semeru
Surono mengaku dirinya senang mengkritik media dalam pemberitaan. Apalagi terkadang sering terjadi kesalahpahaman antara media dengan para ahli.
"Inilah, saya senang kritik media dalam pemberitaan misalnya, jangan lah bad news is good news. Media itu jangan mewawancarain ahli yes or no, ya atau tidak. Ya atau tidak di diskusi ilmiah itu bukan jawaban iya atau tidak, ada keterangan. Saya kadang kadang kesal sekali kepada wartawan yang hebat-hebat itu menjawab sebuah proses hanya dengan multiple choice, yes or no, bener atau salah,” ucapnya.