RUSIA - Ekspor amunisi Rusia ke Amerika Serikat (AS) telah mencapai titik tertinggi sepanjang masa, meskipun Washington memberlakukan sanksi terhadap industri senjata Moskow. Ini membuat pembeli mengeksploitasi celah untuk mendapatkan pasokan peluru.
Menurut harian bisnis RBK pada Rabu (15/12), sebuah laporan baru oleh Biro Sensus AS menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan AS membeli amunisi Rusia senilai USD157,9 juta (Rp2,3 triliun) hanya dalam 10 bulan pertama tahun 2021. Ini menjadi angka terbesar sejak jatuhnya Uni Soviet pada 1991. Rekor sebelumnya adalah USD148 juta (Rp2 triliun) pada 2016, selama 12 bulan. Pada 2020, perusahaan AS mengimpor amunisi senilai USD120 juta (Rp1,7 triliun) dari Rusia.
Secara total, perusahaan-perusahaan AS mengimpor lebih dari 7.700 ton amunisi Rusia pada Januari-Oktober 2021.
Baca juga: Pabrik Peluru Alami Kerugian Signifikan Usai Pemberlakuan Sanksi 'Navalny' AS
Angka-angka rekor ini datang terlepas dari tindakan yang dilakukan oleh Washington terhadap produsen senjata Rusia. Pada Agustus lalu, Departemen Luar Negeri AS mengumumkan "sanksi putaran kedua terhadap Federasi Rusia atas penggunaan agen saraf 'Novichok'" dalam dugaan meracuni tokoh oposisi Rusia Alexey Navalny. Paket itu termasuk pembatasan senjata api dan amunisi yang diproduksi di Rusia.
Baca juga: Bawa Senapan dan Amunisi, Pria Ini Ditangkap di Luar Kediaman Resmi Wapres AS
Asosiasi Senapan Nasional AS mengeluh bahwa sanksi akan lebih merugikan bisnis Amerika daripada Rusia.