Share

Pandemi Covid-19 Munculkan Gelombang Baru Sentimen anti-Migran

Agregasi VOA, · Senin 20 Desember 2021 05:35 WIB
https: img.okezone.com content 2021 12 20 18 2519556 pandemi-covid-19-munculkan-gelombang-baru-sentimen-anti-migran-9h09SAJczs.jpg Migran internasional (Foto: AP via VOA)

JENEWA - Badan-badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melaporkan sepertujuh penduduk dunia, atau satu miliar orang, sedang berpindah-pindah. Jumlah 281 juta ini termasuk dalam rekor migran internasional, dengan 84 juta orang terpaksa mengungsi akibat konflik, kekerasan, dan perubahan iklim.

Direktur Jenderal Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM), Antonio Vitorino, mengatakan banyak migran melakukan perjalanan yang berbahaya dan mengancam jiwa untuk mencari peluang ekonomi yang lebih baik, sementara lainnya terpaksa meninggalkan rumah karena bencana alam dan buatan manusia.

Antonio mengatakan banyak dari mereka yang rentan itu jatuh ke tangan para penyelundup manusia yang tidak bermoral dan beroperasi di sepanjang rute migrasi di seluruh dunia. Ia menambahkan Covid-19 memperburuk kesulitan yang dihadapi para migran.

Baca juga:  Paus Kutuk Perlakuan Egoisme Pribadi Terhadap Migran

“Di luar gambaran perbatasan yang tertutup, keluarga yang terpisah, dan ketidakstabilan ekonomi, pandemi global yang berlangsung dua tahun itu kini melahirkan gelombang baru sentimen anti-migran dan meningkatnya instrumentalisasi migran sebagai alat dalam kebijakan negara. Keduanya tidak dapat diterima,” teragnya.

Alih-alih dari menjadi sebuah beban, Antonio justru menggarisbawahi kontribusi tak ternilai yang diberikan para migran di seluruh dunia. Ia mengatakan pekerja migran—perawat, pekerja kesehatan—telah menyelamatkan jutaan orang dari Covid. Ia juga menjelaskan pengiriman uang oleh sejumlah migran itu membantu kehidupan keluarga yang menderita kemiskinan akibat pandemi.

Baca juga:  Perahu Kempes, 27 Migran Tewas Saat Berusaha Lintasi Selat Inggris

Baca Juga: Salurkan BLT BBM kepada 20,65 Juta KPM, Ini Strategi Pos Indonesia

“Dampak sosial dan ekonomi yang positif di negara-negara mereka tinggal. Tahun lalu, pengiriman uang sekitar 540 miliar dolar AS kepada masyarakat di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah merupakan ukuran bagi sejumlah industri, kewirausahaan, dan komunitas yang bermanfaat bagi kita semua," lanjutnya.

Antonio mencatat kebanyakan pemerintah tetap tidak mengikutsertakan para migran dalam rencana pemulihan sosial dan ekonomi pandemi karena status hukum mereka.

Organisasi-organisasi PBB dan internasional mengimbau pemerintah untuk memberi para migran akses ke vaksin Covid-19 yang menyelamatkan jiwa. Kalau hal itu tidak dilakukan, maka itu merupakan ancaman bagi kesehatan semua orang.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini