Faktor alam ini juga ada yang dinamakan internal solitary wave, yang berdasarkan informasi dari beberapa pakar dan ahli oseanografi, itu ada arus bawah laut yang cukup kuat yang bisa menarik secara vertikal. Jadi jatuhnya kapal ke bawah lebih cepat dari umumnya dan ini yang harus diwaspadai," ujar Ali dalam keterangannya.
Senada dengan hal tersebut, Danseskoal Iwan Isnurwanto, mengatakan bahwa di Perairan Utara Bali menurut satelit Himawari-8 milik Jepang dan Satelit Sentinel milik Eropa, pada tanggal 21 April atau tanggal 20 UTC, terjadi internal wave. Arahnya bergerak dari bawah ke utara.
"Kalau kita terkena Internal Wave, maka itu adalah kehendak alam tentunya para prajurit tidak bisa melakukan peran kedaruratan walaupun mereka sudah siap berada di pos tempurnya masing-masing," jelas Iwan.
Sejak dikabarkan kapal selam KRI Nanggala-402 hilang kontak pada Rabu (21/4), pihak TNI Angkatan Laut (TNI) langsung meminta bantuan dengan mengirimkan distres international submarine escape and rescue leaison office (ISMERLO). Beberapa negara tetangga pun langsung menerjunkan bantuannya dengan mengirimkan kapal untuk membantu pencarian Nanggala-402.
Sedangkan upaya pengangkatan KRI Nanggala-402 yang tenggelam di Perairan Bali, resmi berakhir pada 2 Juni 2021. Hal ini ditandai dengan berakhirnya operasi salvage yang dilakukan TNI AL bersama Angkatan Laut China (PLA Navy), yang berlangsung sejak sebulan yang lalu.
(Fahmi Firdaus )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.