Share

Saksi Bisu Kemerdekaan RI, Ini Kisah Bangunan Bersejarah Kota Malang yang Diresmikan Soekarno

Avirista Midaada, Okezone · Sabtu 08 Januari 2022 07:53 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 08 340 2529118 saksi-bisu-kemerdekaan-ri-ini-kisah-bangunan-bersejarah-kota-malang-yang-diresmikan-soekarno-Dt6ggjz4Xp.jpg Foto: Okezone

MALANG - Bundaran Tugu menjadi ikon bangunan di Kota Malang. Letaknya yang berada di tengah kota, tepatnya di depan Balai Kota Malang, menjadikan Bundaran Tugu memiliki ciri khas khusus.

Pasalnya, lokasi Bundaran Tugu ini tak jauh dari Stasiun Malang Kota Baru, yang menjadikan seolah tugu ini menyambut para wisatawan atau pendatang di Malang. Bagi siapa pun yang pernah ke Malang, pasti mengingat Bundaran Tugu yang sudah menjadi ikon kota di tengah pegunungan ini.

(Baca juga: Duh! Rumah Bersejarah Douwes Dekker Kondisinya Semakin Memprihatinkan)

Tapi siapa sangka bila Bundaran Tugu saat ini menyimpan sejumlah cerita panjang. Bentuk awalnya bukan berbentuk seperti saat ini, melainkan hanya ada lapangan kosong. Bundaran ini menjadi pusat dari bangunan perkantoran dan lain-lain yang ada di sekelilingnya di zaman kependudukan Belanda.

Sejarawan Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Malang Rakai Hino Galeswangi mengatakan, pembangunan bundaran merupakan bagian dari siteplan kedua pembangunan oleh pemerintah Belanda. Saat itu pemerintah Belanda mengistilahkan pembangunan kompleks itu sebagai bouwplan dua yang dimulai pada 1922.

(Baca juga: Tragedi 7 Januari 1962: Konvoi Bung Karno Dilempar Granat di Makassar)

"Dari situ bouwplan Belanda mulai menata tata ruang Kota Malang, dia bentuk bouwplan satu, bouwplan dua, bouwplan tiga, dia (Belanda) buat bundaran, tapi belum ada tugunya kayak sekarang ini," ucap Rakai Hino.

Dinamakan Lapangan Jan Pieterszoon Coenplein alias JP Coen, yang diambil nama Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Karena lapangan tersebut berbentuk bulat, oleh sebagian orang Malang dahulu dinamakan Alun - Alun Bunder. Oleh Belanda dikatakan Rakai Hino, Belanda hanya membangun bundaran dengan air mancur untuk tempat rekreasi atau sekedar berkumpul para kaum ekspatriat Belanda saat itu. Apalagi kompleks sekitarnya merupakan kompleks para petinggi atau pejabat di zamannya.

"Jadi bouwplan dua ini dibangun kawasan Tugu dan Balai Kota Malang. Awalnya disitu tempatnya para petinggi atau pejabat istilahnya, makanya kelurahannya dinamakan Tumenggungan. Ada salah satu suluk silir, ada kata Tumenggungan, disitu namanya Tumenggung, yang artinya para petinggi," tuturnya.

Peperangan mempertahankan kemerdekaan di tahun 1946 - 1949 menjadikan bagaimana Kota Malang juga saksi sejarah, bagaimana mempertahankan kekuasaan dari Belanda. Usai Kota Malang dibumihanguskan oleh tentara pejuang demi menghindari Kota Malang dikuasai Belanda. Tak pelak gedung - gedung, seperti Balai Kota Malang, Gedung Sekolah HBS (AMS) yang sekarang menjadi sekolah SMA, kediaman panglima militer Belanda, Hotel Splendid, dan beberapa bangunan villa di sekitar pusat kota dibakar.

Barulah usai rangkaian mempertahankan kemerdekaan dan berhasil mengusir Belanda di agresi militer I dan II, pemerintah Indonesia kembali perlahan-lahan membangun sejumlah bangunan itu, termasuk di antaranya Balai Kota Malang dan bundaran.

"Ketika balai kota didirikan lagi, dengan peresmian dari Bung Karno, bundaran di depannya itu dikasih tugu itu, jadi tugu itu bukan ikon Kota Malang, tapi tugu simbol kemerdekaan Indonesia, ditaruh di depannya Balai Kota Malang,” tutur Rakai Hino kembali.

Sementara itu Pakar Sejarah Reza Hudiyanto menuturkan, bila pembangunan kembali ditandai dengan peletakan baru pertamanya oleh Gubernur Jawa Timur kala itu Doel Arnowo pada 17 Agustus 1946. Pembangunannya disaksikan langsung oleh Wali Kota Malang saat itu M. Sardjono dan diresmikan oleh Ir. Soekarno.

"Bukan bentuknya kolam, tapi itu hanya lapangan, masih kecil itu. Dibangun lagi tahun 1946 setelah kemerdekaan dibangun. Sebelumnya republik kita nggak ada waktu dengan gitu, sibuk ngatasi inflasi kayak gitu, pengungsi, mempertahankan garis demarkasi," kata Reza Hudiyanto.

Menurutnya, dari beberapa kota di pedalaman yang bebas dari kekuasaan Belanda, Malang-lah yang menjadi kota paling modern dari aspek infrastruktur dan paling bagus. Faktor politik pun juga menyertai pembangunan monumen ini.

"Kalau di Solo ada tugu, Jogja ada tugu, kota - kota yang tersisa kan tinggal kota-kota pedalaman. Inisiatif untuk mempertegas negara ini sudah ada. Makanya di pilih Kota Malang," terangnya.

Bentuk bangunan ini terdiri dari bambu runcing, relief dengan sisi berbentuk lima yang isinya lima gambar pulau besar, proklamasi, dan di bawahnya (penopang dasar) berupa padma. Sedangkan ciri khas dari patung yang ditemukan di berbagai macam candi adalah padma.

Dengan struktur bentuknya seperti bunga teratai sebagai dasar tugu. Bagian setelahnya, yaitu pancasila dan Indonesia bermakna kesucian karena letaknya tepat di atas padma. Dan, bambu runcing sendiri berarti simbol perlawanan yang menggambarkan keadaan serba kekurangan rakyat Indonesia saat menghadapi lawan.

Kini lambat laun, Bundaran Tugu merupakan simbol dari Malang, bahkan ada idiom belum ke Kota Malang jika belum sempat melintas atau bahkan berfoto di Bundaran Tugu. Bahkan Pemerintah Kota (Pemkot) Malang terus mempercantik bangunan dan menambah infrastruktur penunjangnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini