Ciri khasnya adalah ia selalu membawa buku kemanapun dirinya pergi. Pernah juga suatu ketika Gus Dur berada dalam sebuah bus tidak mendapatkan tempat duduk.
Ia kemudian mengambil bukunya dan membacanya dalam keadaan berdiri. Dan ketika sedang membaca buku, Gus Dur seolah menganggap bahwa ia tidak sedang pergi bersama kawannya itu.
Ia hanya akan berbicara katakanlah ketika sudah sampai titik. Kegiatan tersebut terus berulang. Sehingga Gus Mus merasa keberadaanya seolah tidak dianggap oleh Gus Dur.
Akhirnya ia mengakali hal ini dengan ikut membawa buku ketika hendak pergi bersama Gus Dur. Bedanya adalah Gus Dur membawa buku dengan literatur berbahasa Inggris sedang ia membawa buku dengan literatur bahasa Arab.
Ketika bacaanya belum sampai pada titik, ia tidak akan menoleh kepada Gus Dur karena dengan hal ini ia bisa membalas perbuatan yang Gus Dur lakukan.
Menurut Gus Mus, hal itu adalah kesan pertama kali yang paling berkesan, ada orang yang belum pernah kenal sama sekali tapi memperlakukan dirinya seolah-olah sudah kenal lama sekali bahkan seperti kawan lama yang baru berjumpa kembali.
(Susi Susanti)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.