Share

150 Buruh Migran Warga Sukabumi Jadi ODGJ Sepulang dari Luar Negeri, Penyebabnya Mengejutkan

Dharmawan Hadi, iNews · Sabtu 29 Januari 2022 03:26 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 29 340 2539595 150-buruh-migran-warga-sukabumi-jadi-odgj-sepulang-dari-luar-negeri-penyebabnya-mengejutkan-IgTrjSIwZC.jpg Ojang Apandi mengungkapkan 150 PMI warga Sukabumi jadi ODGJ sepulang dari luar negeri. (Foto: Dharmawan Hadi)

SUKABUMI - Sebanyak 150 orang Pekerja Migran Indonesia (PMI) mmengalami depresi ringan hingga tingkatan berat dan dikategorikan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) sepulang bekerja di luar negeri. Hal tersebut terjadi mulai tahun 2012 hingga pada tahun 2021.

Kepala Desa Jambenenggang, Ojang Apandi mengatakan bahwa berbagai permasalahan yang dialami oleh pahlawan devisa tersebut menjadi sebab terjadinya depresi, mulai ketika bekerja di luar negeri hingga sepulangnya ke Tanah Air.

“Totalnya ada 150 orang, namun saat ini yang kita layani berjumlah 70 orang, alasannya karena masih dalam usia produktif atau sampai usia 45 tahun," ujarnya kepada MNC Portal Indonesia, Jumat (28/1/2022). 

Ojang menjelaskan bahwa faktor penyebab ratusan warga Kecamatan Kebonpedes ini mengidap gangguang jiwa, di antaranya karena mereka sering mendapatkan perlakukan yang tidak menyenangkan dari majikan di luar negeri.

"Iya, ada upahnya yang tidak dibayar olah majikannya, lalu saat mereka pulang ke kampung halamannya uangnya sudah habis, baik oleh keluarga maupun oleh suaminya. Bahkan ada yang uangnya habis dipakai oleh suaminya untuk menikah lagi. Lalu ada juga saat mereka bekerja di luar negeri mendapatkan kekerasan dari majikannya. Sehingga mereka stres hingga mengalami gangguan jiwa. Jadi memang banyak faktor ratusan mantan buruh migran ini menjadi ODGJ," ujar Ojang. 

Dari ratusan pahlawan devisa negara asal Kecamatan Kebonpedes yang mengidap gangguan jiwa itu, mayoritas mereka bekerja ke negara bagian Timur Tengah.

Baca juga: Warga Indramayu Terpapar Covid-19 Omicron, Baru Pulang dari Arab Saudi

"Hampir 90 persen mereka bekerja ke Saudi Arabia. Ironisnya lagi, mereka itu kebanyakan bekerja ke sana melalui jalur unprosudural atau tidak resmi," imbuhnya.

Ojang menambahkan bahwa eks pekerja migran tersebut kini dinaungi oleh Yayasan Unit Informasi Layanan Sosial (UILS) ODGJ Kecamatan Kebonpedes, yang juga diketuai oleh dirinya.

“Awal terbentuknya di bawah Kementrian Sosial, lalu program tersebut berakhir dan kini kami lanjutkan dengan alasan kemanusiaan untuk merawat ODGJ eks pekerjaan migran tersebut," ujarnya. 

Lebih lanjut Ojang mengatakan bahwa kendala yang dihadapi oleh Yayasan UILS sekarang adalah keterbatasan dana untuk merawat ODGJ tersebut.

"Selain itu obat-obatan yang tidak tersedia membuat pengobatan ODGJ terhambat dan sering mengamuk ketika tidak ada obat yang dikonsumsinya, oleh karena itu kami mengharapkan adanya bantuan dari berbagai pihak untuk dapat terus merawat ODGJ ini hingga sembuh," pungkasnya. 

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini