Share

Bertepatan dengan Peringatan Kudeta, Pedagang Tionghoa Myanmar Bingung Rayakan Tahun Baru Imlek

Rahman Asmardika, Okezone · Selasa 01 Februari 2022 11:59 WIB
https: img.okezone.com content 2022 02 01 18 2540908 bertepatan-dengan-peringatan-kudeta-pedagang-tionghoa-myanmar-bingung-rayakan-tahun-baru-imlek-1Rf58OWEdV.jpg Ilustrasi. (Foto: Reuters)

NAYPYIDAW – Perayaan Tahun Baru Imlek tahun ini memberi dilema bagi para pemilik toko etnis Tionghoa di Myanmar. Pasalnya, tahun ini perayaan itu bertepatan dengan peringatan satu tahun kudeta oleh junta militer terhadap pemerintah Myanmar yang terpilih secara demokratis.

Pendukung gerakan antimiliter yang berkembang telah menyerukan orang-orang untuk menutup toko dan bisnis mereka sebagai bentuk protes dengan "pemogokan diam" nasional. Para pemimpin militer telah memperingatkan bahwa siapa pun yang berpartisipasi dalam protes itu dapat menghadapi tindakan hukum, termasuk tuduhan melanggar undang-undang kontraterorisme Myanmar.

Ancaman itu membuat para pemilik toko Tionghoa yang berencana tutup selama Tahun Baru Imlek kebingungan. Di satu sisi mereka ingin libur, menutup toko dan merayakan Tahun Baru Imlek bersama keluarga, sementara di sisi lain mereka takut akan tindakan yang diambil militer.

“Biasanya kami tutup selama Tahun Baru Imlek, tetapi tidak tahu apa yang harus dilakukan tahun ini,” kata Hu, seorang penjual mie di Yangon yang tidak mau menyebutkan nama lengkapnya karena takut akan pembalasan, sebagaimana dilansir South China Morning Post.

“Kami ingin menutup, tetapi kami harus takut pada pihak berwenang.”

Sebagaimana diketahui, junta militer Myanmar merebut kekuasaan dari pemerintahan pemimpin de facto Aung San Suu Kyi pada 1 Februari 2021.

Setahun setelah kudeta tersebut, junta militer masih berkuasa, sementara tokoh pemerintah sipil, termasuk Suu Kyi, Presiden Win Myint, dan tokoh-tokoh Partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD), ditangkap dan diadili.

Rakyat Myanmar tetap melakukan perlawanan terhadap junta militer dan melakukan protes menentang kudeta, termasuk dengan pemogokan diam.

Kelompok HAM mengatakan, sekira 1.500 warga sipil termasuk puluhan anak-anak tewas dan ribuan lainnya ditangkap dalam tindakan keras oleh militer terhadap pengunjuk rasa.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini