SUKU Dayak memiliki beragam tradisi unik yang dilakukan sebelum melakukan peperangan, yang tidak ditemukan di tempat lain.
Berikut beberapa tradisi yang dilakukan Suku Dayak sebelum berperang.
1. Mangkuk Merah
Tradisi mangkuk merah memiliki fungsi sebagai sistem komunikasi yang dilakukan oleh Suku Dayak dengan sesamanya. Mangkuk merah diedarkan untuk menyampaikan adanya bahaya atau ancaman yang berdampak pada Suku Dayak. Mangkuk ini diisi beberapa benda, yakni darah ayam, abu, daun kajang, batang korek api, dan bulu ayam.
Ada beberapa larangan yang berlaku dalam pengedaran mangkuk merah ini, antara lain tidak boleh menginap di suatu kampung. Selain itu, pembawa mangkok tersebut juga harus menjelaskan maksud dari pengedaran mangkok merah tersebut sejelas mungkin. Peredarannya harus berdasarkan pertimbangan ketua adat setempat.
2. Kayau
Kayau merupakan salah satu tradisi lain yang dilakukan Suku Dayak sebelum melakukan peperangan. Kayau atau Ngayau merupakan tradisi memenggal kepala yang dilakukan dalam perang. Ritual ini memiliki banyak ragam dan dilakukan sesuai kebutuhan. Kayau tidak dapat dilakukan secara sembarangan.
Komunikasi mengenai kayau ini dilakukan saat pelaksanaan tradisi mangkuk merah. Mangkuk tersebut diedarkan dari desa ke desa, dan warga desa akan berkumpul untuk menyelenggarakan upacara adat lain untuk menyemangati orang yang akan pergi berperang.
Pelaksanaan tradisi kayau dilandasi beberapa hal, seperti balas dendam, mempertahankan diri, hingga kepercayaan yang beredar bahwa kepala musuh merupakan penambah daya tahan berdirinya bangunan. Pada tahun 1894, tradisi ini sepakat untuk diakhiri oleh seluruh masyarakat Dayak Borneo Raya.