Share

Konflik Rusia-Ukraina Bukan Pertama Kali Terjadi, Ini Daftarnya

Tim Litbang MPI, MNC Portal · Sabtu 05 Februari 2022 06:06 WIB
https: img.okezone.com content 2022 02 04 18 2542481 konflik-rusia-ukraina-bukan-pertama-kali-terjadi-ini-daftarnya-WmUkcc674C.jpg Konflik Rusia-Ukraina (Foto: Reuters)

JAKARTA - Konflik antara Rusia dan Ukraina bukanlah yang pertama kali terjadi, tetapi telah beberapa kali. Ukraina merupakan bagian dari Rusia sebelum terjadinya Revolusi Rusia pada Februari 1917. Berikut adalah daftar konflik yang pernah terjadi antara Rusia dan Ukraina yang diolah dari berbagai sumber.

1. Konflik pada 1917

Ukraina pernah menjadi salah satu daerah paling makmur saat menjadi bagian dari Rusia dan menjadi penghasil gandum utama di Eropa. Pada tahun 1793, sebagian besar wilayah Ukraina dimasukkan dalam Kekaisaran Rusia. Saat Revolusi Bolshevik yang terjadi pada Februari 1917, Ukraina membentuk sistem pemerintahan sementara dan menetapkan wilayah tersebut sebagai republik dalam struktur Federasi Rusia. Kemudian, pada Januari 1918 Ukraina menyatakan kemerdekaan sepenuhnya dan memisahkan diri dari Rusia. Namun, hal ini mengalami hambatan berupa oposisi dari pihak Rusia. Wilayah yang subur membuat Ukraina sangat dibutuhkan sebagai pemasok makanan.

Baca juga: Kerahkan 3.000 Tentara ke Eropa, Rusia Tuding AS Picu Ketegangan Soal Ukraina

Jerman dan Austria pun ditunjuk sebagai penengah konflik Rusia dan Ukraina saat itu. Namun, kekalahan Blok Sentral pada Perang Dunia I membuat Jerman dan Austria menarik diri dari wilayah Ukraina. Di saat yang sama, kekaisaran Austro-Hongaria jatuh, membuat Republik Ukraina Barat memproklamasikan kemerdekaannya di Kota Lviv, Glacia. Pada 1919, kedua negara yang terpisah ini memproklamasikan persatuan mereka. Namun hal ini kembali digagalkan karena konflik yang melibatkan pasukan dari Polandia dan Rusia.

Baca juga:  Konflik Ukraina-Rusia, Siapa yang Diuntungkan?

Baca Juga: Aksi Nyata 50 Tahun Hidupkan Inspirasi, Indomie Fasilitasi Perbaikan Sekolah untuk Negeri

Follow Berita Okezone di Google News

2. Konflik pada 2014

Crimea merupakan sebuah semenanjung yang terletak di kawasan Laut Hitam. Pada 1921-1945, kawasan ini masuk ke dalam wilayah Rusia. Namun, setelah tahun 1945 kawasan ini masuk ke dalam wilayah Ukraina. Krisis Crimea yang melibatkan Rusia dan Ukraina pada 2014 dimulai ketika Presiden Ukraina Viktor Yanukovich mengumumkan bahwa Ukraina mundur dari perjanjian Uni Eropa pada bulan November 2013. Hal ini menimbulkan protes dari mahasiswa di Kiev. Pada Februari 2014, parlemen Ukraina melengserkan Yanukovich dari jabatannya. Pelengseran ini menyebabkan terjadinya ketegangan antara kubu pro-Eropa yang terdiri dari politikus dan masyarakat Ukraina daratan, dan kubu pro-Rusia yang terdiri dari masyarakat Crimea.

Di tahun yang sama, masyarakat Crimea meminta bantuan Rusia untuk menyelesaikan konflik dalam negeri tersebut. Namun, tindakan Rusia ini mendapat kecaman dari Uni Eropa, membuat negara tersebut dikeluarkan dari kelompok negara industri G8. Selain itu, Uni Eropa juga memberlakukan larangan ekspor komoditas Rusia ke negara Uni Eropa. Konflik ini berakhir pada 16 Maret 2014, di mana Crimea mengadakan referendum untuk melepaskan diri dari Ukraina dan bergabung dengan Rusia.

3. Konflik pada 2021

Konflik ini bermula ketika Amerika Serikat, yang merupakan kubu pro-Kiev, menuduh Rusia telah mengerahkan 100.000 tentaranya di perbatasan Rusia dengan Ukraina dan di Crimea. Tuduhan ini memicu timbulnya rasa takut masyarakat setempat bahwa Rusia akan memulai perang baru dengan Ukraina. Pihak Rusia sendiri membantah tuduhan invasi ini, mengatakan bahwa pihaknya bebas untuk memindahkan pasukan ke mana pun selama masih berada di wilayahnya sendiri.

Pada Januari 2022, telah ada lebih dari 127 ribu pasukan Rusia di perbatasan Ukraina. Negara yang dipimpin Vladimir Putin itu juga mengirimkan banyak rudal taktis-operasional Iskander ke perbatasan dan meningkatkan aktivitas intelijen terhadap Ukraina. Selain itu, Rusia telah mengosongkan kantor kedutaan mereka di Ukraina, sehingga memperburuk dugaan invasi yang beredar. Padahal, banyak pihak yang telah mengeluarkan ultimatum keras untuk Rusia jika terus melancarkan invasi pada Ukraina. Utusan Rusia dan Ukraina sendiri telah berkomitmen menjaga gencatan senjata di wilayah Ukraina timur, pada Rabu (26/1/2022).

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini