Share

Mengintip Kerasnya 'Pekan Neraka' yang Membuat Pasukan Elite AS Meregang Nyawa

Agregasi BBC Indonesia, · Jum'at 11 Februari 2022 11:23 WIB
https: img.okezone.com content 2022 02 11 18 2545659 mengintip-kerasnya-pekan-neraka-yang-membuat-pasukan-elite-as-meregang-nyawa-KrWQlpreBZ.jpg Calong pasukan Navy SEAL: getty images/ BBC

PASUKAN khusus AS Navy SEAL, merupakan pasukan khusus Angkatan Laut Amerika Serikat. Untuk bergabung kedalam Navy SEAL, ada satu tes yang dikenal sebagai "pekan neraka".

(Baca juga: Nah Lho! 2 Anggota Navy SEAL Diduga Cekik Pasukan Khusus AS hingga Tewas)

Pasukan elite ini juga telah menjalankan misi penting, di antaranya operasi "Neptunus Spear" oleh Navy SEAL tahun 2011 untuk memburu dan menangkap Osama bi Laden di Pakistan.

Kemudian operasi "Red Wing" di Afghanistan, operasi "Just Cause" yang menangkap presiden Panama Antonio Noriega karena diduga terlibat dalam perdagangan narkoba, operasi di perang Vietnam, dan lainnya.

Oleh karena itu, untuk menjadi seorang prajurit Navy SEAL dibutuhkan ketahanan fisik yang luat biasa. Selama lima setengah hari, mereka yang ingin menjadi bagian dari elit Korps Marinir SEAL itu harus melalui salah satu tes terberat dalam militer AS.

(Baca juga: Perang Pecah, Rudal Hipersonik Zicron Rusia Mampu Ratakan Ukraina Dalam Sekejap)

Tes ini menjadi pembuktian para prajurit layak menjadi salah satu pasukan terbaik di dunia ini, SEAL, kelompok tentara yang didedikasikan untuk tugas-tugas paling berbahaya, seperti operasi penangkapan Osama bin Laden pada tahun 2011.

Prajurit Meninggal saat Pelatihan

Tahapan ini telah menimbulkan kekhawatiran karena dikaitkan dengan setidaknya dua kematian para calon.

Media AS beberapa waktu lalu melaporkan kematian Kyle Mullen, seorang kandidat berusia 24 tahun, yang meninggal pada 4 Februari setelah dirawat di rumah sakit California.

Pemuda itu "berhasil menyelesaikan" pelatihan "pekan neraka", kata Angkatan Laut dalam sebuah pernyataan.

"Sejauh ini penyebab kematiannya tidak diketahui dan penyelidikan sedang dilakukan," kata lembaga itu, yang melaporkan bahwa kandidat lain dirawat di rumah sakit.

Angkatan Laut AS menegaskan, tidak ada calon yang secara aktif berlatih ketika mereka "melaporkan gejala" yang membuat mereka dirawat.

Sebelumnya, terdapat dua calon SEAL lainnya yang meninggal pada tahun 2016.

Satu orang karena tenggelam saat "pekan neraka" - yang awalnya memunculkan tuduhan pembunuhan oleh seorang instruktur - dan satu lagi bunuh diri setelah mengundurkan diri dari pelatihan karena menghabiskan lebih dari 50 jam tanpa tidur.

Tapi seperti apa pelatihan keras ini, yang mendorong para peserta hingga berada pada batas ketahanan mereka?

Secara teknis, tes "pekan neraka" dikenal sebagai BUD/S atau SEAL Basic Underwater Demolition Training.

Tes ini didefinisikan oleh Angkatan Laut AS sebagai "program terberat dan paling melelahkan yang pernah ada".

"Tujuannya adalah untuk menyingkirkan yang lemah dan tidak berkomitmen," kata AL AS dan menjelaskan bahwa proses itu bukan pelatihan, tetapi tes daya tahan.

Banyak kandidat yang gagal menyelesaikan tes. Karena sulitnya pendidikan yang ditempuh. Dalam lima setengah hari, para kandidat harus melewati 20 jam tes fisik per hari dan hanya empat jam tidur, yang berlangsung di pantai California, di mana udara di musim dingin lumayan mengigit.

"Tahap ini dimulai dengan ledakan. Amunisi simulasi, tembakan, ledakan, dan suar untuk menciptakan kekacauan dan memulai minggu dengan intensitas tertentu," kata Angkatan Laut dalam sebuah video yang memberikan gambaran ("tidak ada rahasia yang terungkap") seperti apa.

Kandidat SEAL harus melakukan latihan rutin, seperti berlari sejauh 322 kilometer, berenang dan mendayung sejauh beberapa kilometer, melakukan ratusan push-up dan sit-up. Semua dalam lingkungan yang berat di pantai yang dingin.

Dalam tes yang disebut "log PT", kandidat SEAL - basah, dengan pasir yang menyebabkan gesekan pada kulit atau membakar luka yang sudah terbuka - harus membawa bagasi hampir 70kg untuk waktu yang lama.

Tes lain adalah "perahu PT", para calon bekerja sama dalam tim untuk mengangkat perahu karet yang berat di atas kepalanya di antara beberapa pesaing.

Bahkan kegiatan yang tampaknya tidak terlalu berat ternyata adalah beberapa proses yang paling rumit, seperti menghabiskan beberapa jam berdiri diam di tepi pantai, dengan pukulan ombak California yang kuat terus menerus ke tubuh.

"Peserta melakukan evolusi yang mengharuskan mereka untuk berpikir, memimpin, membuat keputusan dan berfungsi dengan baik ketika mereka sangat kurang tidur, hampir hipotermia atau bahkan berhalusinasi," kata deskripsi tes.

Tes biasanya dilakukan pada bulan Januari atau Februari, ketika cuaca lebih dingin di pantai San Diego, California.

Angkatan Laut mencatat bahwa kesalahan umum oleh mereka yang bersiap untuk "pekan neraka" adalah fokus pada tes fisik, termasuk kurang tidur atau paparan dingin, terlebih dahulu.

Padahal, kuncinya adalah persiapan dalam segala hal, termasuk mental.

"Banyak analogi dalam olahraga menggambarkan hal ini. Seorang pelari maraton tidak melatih lari maraton setiap hari untuk 'membiasakan' mereka," AL AS menjelaskan.

"Atlet pintar fokus pada pengkondisian dan tetap sehat untuk memastikan tubuh mereka memiliki kekuatan dan stamina untuk menahan hukuman saat dibutuhkan," tambah mereka.

Sepanjang proses itu, para instruktur juga mempengaruhi pikiran dengan menabur keraguan di antara calon SEAL.

Pelatih mendorong mereka untuk menyerah, berharap hanya yang paling tahan yang akan mencapai tahap seleksi berikutnya.

"Pekan neraka adalah pembuktian bagi para kandidat yang memiliki komitmen dan dedikasi yang dibutuhkan SEAL. Ini adalah ujian akhir dari kemauan dan kerja tim," mereka menunjukkan dari program tersebut.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini