Share

5 Muslim yang Menjadi Pahlawan Uni Soviet, Salah Satunya Perempuan Tangguh

Tim Litbang MPI, MNC Portal · Kamis 17 Februari 2022 05:01 WIB
https: img.okezone.com content 2022 02 16 18 2548395 5-muslim-yang-menjadi-pahlawan-uni-soviet-salah-satunya-perempuan-tangguh-MtQzqLbwNm.jpg Aliya Muldagulova, Musa Jalil, dan Yusup Akayev adalah tiga dari banyak pahlawan Muslim Uni Soviet. (Foto: Museum Sejarah Kontemporer Pusat Rusia/RBTH)

JAKARTA – Uni Soviet (kini Rusia) merupakan negara yang terdiri dari berbagai bangsa dan etnis, termasuk yang mayoritas beragama Islam. Karena itu tidak tidak mengherankan jika di antara pahlawan Uni Soviet yang merupakan seorang Muslim.

Disebutkan, setidaknya ada lebih dari 500 orang Muslim yang mendapat anugerah Pahlawan Uni Soviet atas kontribusinya dalam Perang Patriotik Raya.

Berikut beberapa Muslim yang mendapat predikat pahlawan Uni Soviet:

BACA JUGA: Sejarah Hari Ini: Pertempuran Stalingard Berakhir dengan Kekalahan Besar Nazi Jerman 

1. Domullo Azizov

Sersan Muda Domullo Azizov adalah prajurit yang lahir di Republik Sosialis Soviet Tajik. Azizov memiliki peran dalam keberhasilan penyeberangan Sungai Dnieper. Salah satu operasi terpenting Uni Soviet dalam PD II itu terjadi pada musim gugur tahun 1943.

Dengan dihujani peluru dari pihak musuh, pada 15 Oktober, Azizov bersama satu unit amfibi menyeberangi sungai di Distrik Loyevsky, Belarus. Meski perahunya belum mencapai darat, Domullo segera melompat keluar dari perahu. Ketinggian air mencapai pinggangnya, namun ia berjalan dengan cepat lalu menerobos parit Jerman.

Ia berhasil menghancurkan senapan mesin milik Jerman dengan granat yang dilemparkannya. Setelah itu, Domullo menahan tembakan tentara Jerman dengan mengarahkan senapan mesin ke arah mereka. Hal tersebut dilakukannya hingga bantuan datang. Selang sembilan hari kemudian, saat membebaskan wilayah Gomel, Belarus, Domullo Azizov tewas terbunuh dalam pertempuran. Jasadnya dimakamkan di kuburan massal di Gomel. Atas jasanya, Domullo Azizov dianugerahi gelar Pahlawan Uni Soviet secara anumerta.

2. Musa Jalil 

Bagi Uni Soviet, Musa Jalil merupakan sosok penyair yang berani. Namanya telah menjadi simbol keberanian, kepahlawanan, dan pengabdian tanpa batas untuk negaranya. Dalam perang melawan Nazi Jerman, penyair asal Tatar ini menjadi komisaris politik sebuah unit militer Tentara Merah. Ia bertanggung jawab atas pendidikan ideologi politik para prajurit.

Pada 1942, Jalil bergabung dengan legiun Idel-Ural milik Jerman. Masuknya Jalil ke legiun ini bukanlah untuk membela Nazi. Ia berencana menghancurkan unit militer tersebut dari dalam. Sebagai tokoh kunci gerakan bawah tanah dalam legiun itu, Jalil dipercaya untuk menyebarluaskan propaganda Nazi di kamp tawanan perang. Namun, kesempatan ini justru digunakannya untuk merekrut anggota guna melawan Jerman. Terbukti, batalion pertama Idel-Ural yang dikirim ke medan peperangan malah menggempur habis para perwira Jerman.

Pada Agustus 1943, Musa Jalil ditangkap. Setahun berikutnya, ia dipenggal. Dalam waktu yang lama, Jalil dicap sebagai pengkhianat di Uni Soviet karena dianggap telah mengkhianati negerinya. Setelah perang, namanya pun dibersihkan. Pada 1956, Musa Jalil mendapat gelar Pahlawan Uni Soviet. Selain itu, ia juga memperoleh penghargaan Lenin Prize atas karyanya yang berjudul The Moabit Notebooks. Keduanya dianugerahkan secara anumerta.

3. Khanpasha Nuradilov

Khanpasha Nuradilov merupakan prajurit asal Chechnya yang bergabung dalam Tentara Merah di usia muda. Keterlibatannya dalam peperangan tidak sampai dua tahun, namun seluruh Uni Soviet mengenalnya. Ia berhasil membunuh sebanyak 920 tentara Jerman, di samping menjadi penembak mesin terbaik di Tentara Merah. 

Keberaniannya membuat dia dapat berjuang hingga akhir. Meski terluka beberapa kali, Nuradilov menjadi satu-satunya anggota unit senapan mesin yang bertahan hidup dan menggentarkan musuh. Pada musim semi 1942, ia bertempur di dekat Desa Bayrak di Ukraina. Tugasnya adalah melancarkan serangan perlindungan. Dengan senapan mesinnya, terhitung lebih dari 300 tentara Jerman yang terbunuh.

Pada tahun berikutnya, pemuda berusia 18 tahun itu tewas terbunuh di dekat Stalingrad. Khanpasha Nuradilov kemudian dianugerahi gelar Pahlawan Uni Soviet secara anumerta.

4. Aliya Moldagulova

Aliya Moldagulova lahir pada 25 Oktober 1925, di Desa Bulak di Distrik Khobdinsky, wilayah Aktobe, Kazakhstan. Ia lulus dari Sekolah Pusat Instruktur Penembak Jitu, yang terletak di pinggiran kota Moskow. Pada Juli 1943, ia dikirim sebagai penembak jitu ke brigade senapan ke-54 dari pasukan ke-22.

Meski memiliki keahlian sebagai penembak jitu, nama Aliya Moldagulova terkenal bukan karena kemampuannya itu. Pada awal Januari 1944, selama operasi Leningrad-Novgorod, brigade senapan ke-54 menuju wilayah Pskov. Di Stasiun Nasva, para prajurit harus menghadapi tembakan musuh yang menghujani. Tugas mereka saat itu adalah memotong jalur kereta api Novosokolniki-Dno dan merebut Desa Kazachikha. Dalam pertempuran sengit tersebut, Moldagulova bangkit dan berteriak: "Saudara-saudara, tentara, ikuti saya!".

Pada hari itu, ia mampu menangkis serangan balik musuh dan menghancurkan beberapa tentara dan perwira dengan senapan mesin. Dia bahkan sempat melakukan perlawanan dengan tangan kosong di parit Jerman. Di sini nyawanya melayang, tetapi gadis Kazakh pemberani itu sempat menumbangkan seorang perwira Jerman sebelum kematiannya.

Dengan dekrit Presidium Soviet Tertinggi Uni Soviet pada 4 Juni 1944, Kopral Aliya Moldagulova secara anumerta dianugerahi gelar Pahlawan Uni Soviet.

 

5. Yusup Akayev

Yusup Akayev merupakan pilot penerbangan Armada Laut Hitam yang terkenal. Ia berasal dari etnis Kumyk dan tinggal di Dagestan. Komandan Skuadron Penerbangan ke-2 dari Resimen Penerbangan Serbu ke-47 ini melakukan 104 serangan mendadak, pada Juli 1944. Sebanyak 18 kapal berbagai jenis berhasil ia hancurkan, beserta 3 lokomotif uap, 11 tank, dan banyak peralatan militer musuh lainnya.

Akayev memiliki teknik tersendiri dalam penyerangan.

Bukan dari atas, ia justru terbang rendah di antara kapal-kapal musuh. Begitu tiba pada sasaran, ia menjatuhkan bom lalu segera mengangkat pesawatnya. Teknik ini berisiko tinggi, tapi sekaligus efektif untuk menghancurkan musuh.

Pada 1944, atas perjuangannya melawan Nazi Jerman, Yusuf Akayev dianugerahi gelar Pahlawan Uni Soviet. Ia tidak memiliki waktu lama menikmati kemenangannya. Pada 1949, Yusup Akayev tutup usia.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini