Sebagaimana tema presidensi Indonesia dalam G20 Recover Together, Recover Stronger sehingga pemulihan akibat krisis Covid-19 tidak bisa dilihat dari sisi ekonomi semata, melainkan semua bidang kehidupan.
“Kita lihat pandemi membawa sisi terbaik manusia, ada tujuan yang sama. Tapi sering juga membawa bagian terjelek dari sisi manusia dimana kita sering menyalahkan satu sama lain dan meminggirkan satu bagian dari masyarakat kita. Di situlah, umat beragama, kelompok beragama membawa kebaikan dalam situasi ini,” ujarnya.
Sementara itu Direktur Eksekutif The Sanneh Institute, Dr. John Azumah, mengatakan bahwa Afrika merupakan sebuah benua yang sangat plural karena memiliki banyak keragaman agama. Di banyak negara Afrika, lazim ditemui 3-4 agama dalam suatu keluarga.
The Sanneh Institute adalah lembaga berbasis di Ghana, Afrika Barat, berisi komunitas ilmiah yang didedikasikan untuk memperlengkapi dan menyediakan sumber daya bagi pemimpin agama, cendekiawan, lembaga akademik, dan masyarakat Afrika lewat penyelidikan lebih lanjut.
Keberadaan The Sanneh Institute terkait erat dengan kondisi di Afrika. Meskipun mayoritas warga benua itu adalah orang beragama, hanya sedikit penganut bahkan pemuka agama yang mengenal agamanya secara dalam. Hal itu kerap memunculkan prasangka dan stereotip karena sikap picik atau sekadar ketidaktahuan.
“Kita mendapatkan situasi dimana stereotip, prasangka, justru semakin dipupuk dan ini bisa menjadi situasi sangat matang bagi intoleransi, khususnya ekstrimisme dengan kekerasan seperti kita lihat di Afrika,” katanya.