Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Filipina Siap Dukung Militer AS jika Perang Rusia-Ukraina Meluas ke Asia

Susi Susanti , Jurnalis-Jum'at, 11 Maret 2022 |05:26 WIB
Filipina Siap Dukung Militer AS jika Perang Rusia-Ukraina Meluas ke Asia
Presiden Filipina Rodrigo Duterte (Foto: Reuters)
A
A
A

FILIPINA - Presiden Filipina Rodrigo Duterte telah memilih pihak militer dalam pertempuran yang dipimpin Amerika Serikat (AS) atas invasi Rusia ke Ukraina. Duterte berjanji untuk menjadi tuan rumah bagi pasukan AS jika konflik itu menjadi perang panas dan menyebar ke Asia.

Jose Manuel Romualdez, Duta Besar Filipina untuk Washington, mengatakan kepada wartawan pada Kamis (10/3) di Manila, Duterte siap untuk membuka fasilitas apapun yang diminta untuk pasukan AS. Dukungan itu akan mencakup penggunaan aset Filipina, tanpa batasan. Utusan itu mengutip komentar yang dibuat Duterte dalam pertemuan pekan lalu.

“Dia mengatakan jika mereka meminta dukungan Filipina, dia sangat jelas, jika ada desakan, Filipina akan siap menjadi bagian dari upaya, terutama jika krisis Ukraina ini meluas ke kawasan Asia,” terangnya.

Baca juga: AS Beri Lampu Hijau ke Negara-Negara NATO Pasok Jet Tempur ke Ukraina

“Dia menawarkan bahwa Filipina akan siap untuk membuka pintunya, terutama kepada sekutu kami Amerika Serikat, dalam menggunakan fasilitas kami, fasilitas apa pun yang mungkin mereka butuhkan,” lanjutnya.

Baca juga: Putin Kirim Pasukan ke Donbass, AS Bersikap Menunggu dan Melihat 

Romualdez mengatakan tawaran untuk mendukung pasukan AS dalam upaya perang melawan Rusia akan mematuhi perjanjian pertahanan bersama tahun 1951 yang mewajibkan AS dan Filipina untuk saling membela jika salah satu diserang oleh negara lain. Di antara fasilitas yang mungkin berguna bagi Pentagon adalah pelabuhan bebas Clark dan Subic Bay, di mana AS dulu memiliki dua pangkalan militer luar negeri terbesarnya sebelum menyerahkannya ke Filipina pada awal 1990-an.

Romualdez menjelaskan para pejabat AS telah menjadwalkan pertemuan keamanan di Gedung Putih dengan duta besar sekutu Asia Tenggaranya untuk membahas sanksi yang dijatuhkan pada Rusia.

Presiden AS Joe Biden juga telah mengundang kepala negara Asia Tenggara untuk pertemuan pada 28 Maret mendatang. Duta Besar mengatakan Duterte mungkin tidak dapat hadir, sebagian karena musim pemilu Filipina memanas.

Meskipun Barat telah memberlakukan sanksi ekonomi yang berat dan berusaha untuk mengisolasi Rusia atas serangannya terhadap Ukraina, AS dan sekutu NATO-nya telah mencoba untuk menghindari perang yang lebih luas dengan Moskow. Presiden Rusia Vladimir Putin telah memperingatkan terhadap intervensi yang akan dianggap perang langsung dengan Rusia, seperti mendeklarasikan zona larangan terbang di Ukraina.

Duterte memiliki hubungan yang sulit dengan Washington sejak menjabat pada 2016, mengkritik kebijakan AS dan berusaha menjalin hubungan yang lebih kuat dengan Rusia dan China. Dia telah mengancam akan mengakhiri Perjanjian Pasukan Kunjungan Manila dengan Washington, yang memungkinkan pasukan AS untuk berlatih di negara Asia Tenggara itu, kemudian mundur tahun lalu setelah merundingkan paket bantuan yang lebih besar.

Pemilihan presiden (pilpres) dijadwalkan pada 9 Mei dan masa jabatan enam tahun Duterte dijadwalkan berakhir pada 30 Juni. Ferdinand Marcos Jr., putra mantan diktator negara itu, adalah yang terdepan dalam persaingan pilpres. Pasangannya adalah putri Duterte, Sara Duterte. Marcos Jr. pekan lalu menyerukan Rusia untuk menghormati kedaulatan Ukraina setelah sebelumnya menuai kritik karena mengatakan dia tidak melihat perlunya Filipina memihak dalam konflik.

(Susi Susanti)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement