Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Sarinah, Pengasuh Bung Karno Kecil yang Tidak Pernah Digaji

Tim Okezone , Jurnalis-Selasa, 29 Maret 2022 |06:07 WIB
Sarinah, Pengasuh Bung Karno Kecil yang Tidak Pernah Digaji
Bung Karno (Foto: Ist)
A
A
A

JAKARTA - Sarinah kini dikenal sebagai salah satu pusat perbelanjaan yang berada di Jalan MH Thamrin, Jakarta. Namun, ternyata penamaan Sarinah ini memiliki sejarah tersendiri.

Sarinah merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang digagas oleh Bapak Proklamator Indonesia Presiden Soekarno. Tujuannya untuk mewadahi kegiatan perdagangan produk dalam negeri serta mendorong pertumbuhan perekonomian Indonesia.

Baca Juga: Kisah Hendra, Pelukis yang Pernah Bikin Mata Bung Karno Berkaca-kaca   

Sarinah sendiri diambil dari nama salah satu pengasuh Presiden Soekarno di masa kecil. Kesan mendalam tentang kebesaran jiwa sang pengasuh menginspirasi penyematan nama tersebut.

Dalam buku biografi ‘Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia’ karya Cindy Adams, Soekarno berbicara jika Sarinah, gadis pembantu yang membesarkannya. 

Bagi Bung Karno, pembantu rumah tangga bukanlah pelayan menurut pengertian orang barat. Saat itu, mereka hidup berdasarkan azas gotong royong. Kerja sama. Tolong menolong, Gotong royong sudah mendarah daging dalam jiwa bangsa lndonesia.

Baca Juga: Bung Karno Tertawa karena Kejahilan Hoegeng saat Sidang Kabinet

Dalam masyarakat yang asli, 'kami tidak mengenal kerja dengan upah. Manakala harus dilakukan pekerjaan yang berat, setiap orang turut membantu engkau perlu mendirikan rumah? Baik, akan kubawakan batu tembok; kawanku membawa semen. Kami berdua membantumu mendirikannya. ltulah gotong royong, bantu‐membantu.'

Sarinah adalah bagian dari rumah tangga di keluarga Bung Karno. Dia tidak kawin dan dianggap bagian anggota keluarga. "Dia tidur dengan kami, tinggal dengan kami, memakan apa yang kami makan, akan tetapi ia tidak mendapat gaji sepeser pun," ungkap Bung Karno dalam buku tersebut.

Dialah yang mengajar Soekarno untuk mengenal cinta‐kasih, tetapi bukan dalam pengertian jasmaniahnya.

"Sarinah mengajarku untuk mencintai rakyat. Massa rakyat, rakyat jelata. Selagi, ia memasak di gubuk kecil dekat rumah, aku duduk disampingnya dan kemudian ia berpidato, "Karno, yang terutama engkau harus mencintai ibumu. Akan tetapi kemudian engkau harus mencintai pula rakyat jelata. Engkau harus mencintai manusia umumnya."

Sarinah adalah nama yang biasa. Akan tetapi Sarinah yang ini bukanlah wanita yang biasa. Ia adalah satu kekuasaan yang paling besar dalam hidup Soekarno.

"Di masa mudaku aku tidur dengan dia. Maksudku bukan sebagai suami‐isteri. Kami berdua tidur di tempat tidur yang kecil. Ketika aku sudah mulai besar, Sarinah sudah tidak ada lagi," jelas Bung Karno.

(Awaludin)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement