BUNG KARNO kerap didatangi kakek-kakek. Bahkan, pernah ada seorang nelayan tua yang rela mendatanginya dengan berjalan kaki 23 hari demi bisa bertemu dengannya.
Nelayan itu hanya ingin sekadar sujud di hadapannya dan mencium kakinya. Nelayan itu mengaku telah berjanji pada dirinya sendiri, sebelum mati ia akan melihat wajah presidennya dan menunjukkan kecintaan serta kesetiaan kepadanja.
Banyak yang percaya bahwa Bung Karno adalah seorang Dewa, yang mempunyai kekuatan-kekuatan sakti yang bisa menyembuhkan penyakit.
Pernah ada seorang petani kelapa yang anaknya sakit keras bermimpi, bahwa ia harus pergi kepada Bung Karno dan minta air untuk anaknya. Bung Karno pun mengambil air ledeng biasa dari dapur.
Petani itu meyakini bahwa air ini yang diambil Bung Karno mengandung zat-zat yang menyembuhkan. Bung Karno tak bisa berkata-kata, karena orang Jawa adalah orang yang percaya kepada ilmu kebatinan.
Dan petani itu yakin bahwa ia akan kehilangan anaknya kalau tidak membawa obat ini dari Bung Karno. Lalu, Bung Karno pun memberika air tersebut kepadanya, dan ajaibnya seminggu kemudian anak itu sembuh kembali.
Bung Karno kerap melakukan perjalana ke berbagai pelosok Tanah Air dari Sabang, negeri yang paling utara dari Pulau Sumatera, sampai ke Merauke di Irian Barat dan yang paling timur. Beberapa tahun yang lalu di mengunjungi sebuah desa kecil di Jawa Tengah.
Kemudian, ada seorang perempuan dari desa itu mendatangi pelayan Bung Karno dan membisikkan, "Jangan biarkan orang mengambil piring Presiden. Berikanlah kepada saja sisanya. Saya sedang mengandung dan saja ingin anak laki-laki. Saya mengidamkan seorang anak seperti Bapak. Jadi tolonglah, biarlah saja memakan apa-apa jang telah dijamah sendiri oleh Presidenku."
Lain lagi di Pulau Bali, mereka percaya bahwa Bung Karno adalah penjelmaan kembali Dewa Wishnu, Dewa Hujan dalam agama Hindu. Karena, bila Bung Karno datang ke tempat istirahat, sekalipun di tengah musim kemarau, kedatangannya bagi mereka berarti hujan.
Orang Bali yakin, bahwa Bung Karno membawa pangestu kepada mereka. Saat terakhir Bung Karno terbang ke Bali, di sana sedang berlangsung musim kering. Tepat setelah sampai di sana, langit terjurah.
Namun, Bung Karno menyatakan, bahwa dirinya memanjatkan do'a syukur kehadirat Yang Maha Pengasih manakala turun hujan selama dirinya berada di Tampaksiring. Karena, kalau tidak terjadi, sedikit banyak akan mengurangi pengaruhnya.
Kisah ini dilansir dari Buku Penyambung Lidah Rakyat, karya Cindy Adams
(Arief Setyadi )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.