Tak dapat dipungkiri, kecerdasan Kartini memang ia dapatkan secara turun-temurun. Dalam buku R.A. Kartini: Biografi Singkat 1879-1904 karya Imron Rosyadi, disebutkan bahwa kakek Kartini, Pangeran Ario Tjondronegoro IV, sudah diangkat sebagai bupati di usianya yang baru menginjak 25 tahun. Dirinya juga mendidik semua anak-anaknya dengan ajaran Barat. Bahkan, mendatangkan guru khusus dari Belanda.
Kartini cukup beruntung karena mendapatkan pendidikan langsung di sekolah Belanda, yakni ELS (Europese Lagere School). Sekolah ini hanya diperuntukkan bagi masyarakat Belanda dan orang-orang penting dari masyarakat Jawa. Namun, ia mendapat tindakan kurang menyenangkan dari guru-gurunya di sekolah. Sebab, mereka yang rata-rata berasal dari Belanda memandang sebelah mata terhadap siswa-siswi pribumi. Oleh karena itu, Kartini berusaha sekuat tenaga untuk menonjol dan menjadi anak yang cerdas.
Kartini amat gemar membaca dan menulis. Ia rajin melakukan surat-menyurat dengan sahabat-sahabat penanya yang ada di negeri Belanda. Di tengah keasyikannya menjalankan pendidikan, ayahnya memaksa Kartini untuk berhenti. Menurut sang ayah, perempuan tidak perlu mengenyam pendidikan tinggi. Kartini dipingit dan akan dinikahkan oleh laki-laki pilihan ayahnya. Meskipun kecewa, Kartini tetap tidak patah arang. Ia terus belajar dan lebih rutin berkirim surat.